HIKMAH | Adab Murid dalam Menuntut Ilmu: Cermin dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhir
VISI.NEWS | BANDUNG - Di masa kini, adab seorang murid terhadap gurunya semakin memudar. Tidak jarang kita mendengar kabar tentang murid yang berani membantah, meremehkan, bahkan berbuat kasar kepada guru. Fenomena ini menggambarkan betapa jauh perilaku manusia modern dari teladan para nabi dan ulama terdahulu. Dalam menuntut ilmu, adab seorang murid memiliki kedudukan yang sangat penting. Adab bukan sekadar bentuk sopan santun, melainkan juga kunci agar ilmu yang diperoleh membawa manfaat dan keberkahan.
Imam Al-Ghazali dalam *Ihya’ Ulumuddin* menegaskan bahwa seorang murid tidak boleh menyombongkan ilmunya atau menentang gurunya. Ia harus menyerahkan sepenuhnya urusannya kepada guru dan mematuhi nasihatnya seperti seorang pasien yang percaya penuh kepada dokter. "Seorang pelajar hendaknya bersikap tawadhu kepada gurunya dan mengharap pahala serta kemuliaan dengan berkhidmah kepadanya," jelas Al-Ghazali. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya adab dalam proses belajar, di mana murid diharapkan untuk menjaga kerendahan hati dan kesungguhan dalam menerima ilmu.
Adab yang diajarkan Al-Ghazali tidak hanya bersifat ritualis, tetapi juga membentuk karakter yang tulus dan penuh penghargaan terhadap guru. Hal ini juga dicontohkan dalam Al-Qur’an melalui kisah Nabi Musa a.s. yang berguru kepada Nabi Khidhir a.s., sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Kahfi. Nabi Musa, meskipun merupakan nabi besar yang langsung berkomunikasi dengan Allah, tetap menunjukkan kerendahan hati ketika meminta izin untuk belajar dari Nabi Khidhir. Ia berkata, *“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar dari apa yang telah diajarkan kepadamu?”* (QS Al-Kahfi: 66).
Kisah ini mengajarkan kita banyak hal mengenai adab menuntut ilmu. Nabi Musa a.s., meskipun memiliki kedudukan yang tinggi, tidak merasa lebih dari guru yang ia tuju. Ia meminta izin dengan sopan, menyadari keterbatasan diri, dan mengakui bahwa ilmunya masih perlu ditambah. Imam Ismail Haqqi dalam tafsirnya menegaskan bahwa setiap orang yang menuntut ilmu harus bersikap rendah hati di hadapan orang yang lebih berilmu darinya. Inilah salah satu prinsip utama dalam memperoleh ilmu yang berkah, yaitu kerendahan hati.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!