Harga Kripto Hari Ini 7 November 2025: Bitcoin Anjlok ke Rp1,69 Miliar per Koin
Menurut Tim Sun, seorang peneliti senior di HashKey Group, tekanan jual yang terjadi menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam dinamika pasar. Ia menilai, kini investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil risiko di tengah volatilitas yang meningkat.
“Obligasi menjadi satu-satunya aset yang mencatat kenaikan, sementara Bitcoin, emas, dan saham mengalami penurunan serentak,” ungkap Sun kepada Decrypt.
Ia menambahkan, area USD 85.000 bisa menjadi batas bawah yang kuat bagi Bitcoin jika tekanan jual berlanjut.
Penguatan kurs dolar AS disebut sebagai penyebab utama penurunan harga aset berisiko. Analis Senior Operasional Onboarding Schroders Jiehan Chen, mengungkapkan kepada Decrypt, “Penguatan USD menjadi pendorong utama jatuhnya harga aset berdenominasi dolar.”
Pendapat ini turut diamini sejumlah pakar lain.
Selain itu, Sun menyoroti tanda-tanda pengetatan likuiditas di pasar pendanaan jangka pendek. Ia mencatat meningkatnya penggunaan fasilitas repo The Fed dan naiknya saldo rekening Departemen Keuangan AS yang telah menembus USD 1 triliun, menandakan ketersediaan dana likuid di pasar semakin terbatas.
Kekhawatiran pasar kian meningkat seiring ancaman government shutdown di Amerika Serikat yang diperkirakan berlangsung hingga Desember. Berdasarkan data dari platform prediksi Myriad, 98,7% pengguna yakin shutdown kali ini akan menjadi yang terpanjang dalam sejarah AS.
Di tengah kekhawatiran akibat government shutdown, Derek Lim, Head of Research di Caladan, mengatakan kepada Decrypt bahwa pengetatan likuiditas turut memperbesar tekanan jual yang tengah melanda. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!