Hamzah Ibrahim, Wartawan Tiga Zaman Berpulang ke Rahmatullah

ED
Senin, 25 Maret 2024 | 06:22 WIB
Bagikan
Hamzah Ibrahim, Wartawan Tiga Zaman Berpulang ke Rahmatullah

VISI.NEWS | BALEENDAH - Sebuah pesan di grup PWI Kabupaten Bandung disampaikan Ibu Endah Suhaedah,  "Innalillahi wa innailaihi roji'un. Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah, Bapak H. Hamzah Ibrahim. Mohon maaf atas segala kekhilafan almarhum. Mohon doa semoga diterima Iman dan Islamnya, diampuni segala dosanya, ditempatkan di surganya Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan oleh Allah SWT. Aamiin Yaa Mujibassailiin," tulisnya tadi Subuh, Senin (25/3/2024).

H. Hamzah meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al Ihsan, pukul 00.30 WIB. Almarhum di rawat selama dua malam di rumah sakit tersebut setelah mengalami anfal.

Wartawan Tiga Zaman

Hamzah Ibrahim, seorang wartawan yang telah melintasi berbagai era penting dalam sejarah Indonesia, memiliki kisah yang unik dan menginspirasi. Lahir di Gayo, Aceh, yang sering disebut sebagai 'tanah di atas awan', pada 12 Juni 1939, Hamzah telah menjadi saksi hidup dari zaman Orde Lama hingga era reformasi.

Dengan latar belakang sebagai 'kuli tinta' atau wartawan, Hamzah memulai karirnya di Harian Mandala. Kisah perjalanannya yang penuh warna tercatat dalam buku "Bila Maut Datang Menjemput, Antarkan Aku Sebagai Wartawan", sebuah terbitan Majelis Wartawan Senior (Mawas) tahun 2012 yang memuat profil sekitar 40 wartawan senior di Jawa Barat, termasuk Hamzah dan istrinya, Endah Suhaedah.

Setelah lulus SMA pada tahun 1961, Hamzah menyeberang ke Pulau Jawa, tinggal sementara di Jakarta di rumah pamannya, Hasan Gayo. Dari situ, sebuah pertanyaan mendadak dari pamannya membawanya pada jalan hidup yang tak terduga. Dihadapkan pada pilihan antara sekolah atau bekerja, Hamzah memilih untuk menjadi wartawan, sebuah keputusan yang akan membentuk sisa hidupnya.

Meskipun awalnya ragu-ragu, Hamzah akhirnya berangkat ke Bandung untuk bertemu dengan AK Yacobi, Pemimpin Redaksi Harian Karya, atas saran pamannya. Di sana, ia memulai karirnya bukan sebagai wartawan lapangan, melainkan sebagai korektor. Namun, tak lama setelah itu, pada 10 Mei 1963, Hamzah diberi tugas pertamanya di lapangan, meliput kepolisian dan pengadilan.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.