Gus Yahya: Percepatan atau Penundaan Muktamar NU Tidak Masalah Asalkan Sesuai Ketentuan Konstitusi
ED
Editor
M Purnama Alam
Jumat, 12 Desember 2025 | 04:59 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menanggapi wacana percepatan Muktamar Ke-35 NU yang sebelumnya disampaikan oleh kelompok Sultan dalam Rapat Pleno PBNU pada 9–10 Desember 2025. Dalam penjelasannya di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (11/12/2025), Gus Yahya menegaskan bahwa baik percepatan maupun penundaan Muktamar bukanlah masalah utama selama seluruh ketentuan konstitusional organisasi terpenuhi.
Gus Yahya menjelaskan bahwa yang terpenting adalah Muktamar harus dipimpin bersama oleh Rais Aam dan Ketua Umum sebagai dua mandataris sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. "Tidak ada masalah muktamar mau cepat atau lambat. Tapi syarat harus dipenuhi, yaitu muktamar dipimpin oleh Rais Aam dan Ketua Umum. Kalau cuma salah satu, tidak mungkin bisa dilaksanakan muktamar. Itu masalahnya," ujarnya, seperti dikutip dari NU Online.
Ia menambahkan bahwa tanpa pemenuhan syarat tersebut, pelaksanaan Muktamar dapat menjadi cacat hukum dan berisiko menimbulkan persoalan yang lebih besar bagi jam'iyyah. Gus Yahya menekankan pentingnya menjaga keabsahan dan kesempurnaan dalam setiap tahap pelaksanaan Muktamar. "Sudah lah, tidak ada jalan lain selain islah, daripada nanti muktamarnya jadi bermasalah, jadi tidak sempurna," tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya menilai bahwa kesiapan organisasi jauh lebih penting daripada sekadar mempercepat waktu penyelenggaraan Muktamar. Ia mengajak seluruh pihak untuk fokus pada persiapan yang matang dan memastikan bahwa Muktamar dilaksanakan dengan benar. "Mari kita persiapkan muktamarnya bersama-sama. Mau cepat, mari. Mau besok pagi kalau sanggup ya mari. Yang penting muktamar ini benar. Jangan muktamar yang timpang, yang cacat, yang kurang sempurna," tambahnya.
Sebelumnya, dalam Rapat Pleno Kelompok Sultan, Rais Syuriyah PBNU, Muhammad Nuh, menjelaskan bahwa Muktamar ke-34 di Lampung mengalami kemunduran akibat pandemi Covid-19, yang menyebabkan siklus kepemimpinan NU ikut bergeser. Nuh menganggap momentum tahun 2026 sebagai waktu ideal untuk menormalkan kembali ritme Muktamar yang sebelumnya terhambat akibat pandemi.
"Ini bukan percepatan Muktamar, bukan. Tetapi mengembalikan siklus Muktamar seperti sebelum Covid-19. Karena Muktamar di Lampung itu mundur akibat pandemi. Sekarang kesempatan bagus untuk kembali ke siklus yang normal," kata Muhammad Nuh pada 9 Desember 2025. Menurutnya, peringatan 100 tahun NU pada 31 Januari 2026 menjadi momen penting untuk konsolidasi internal organisasi.
Rangkaian Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas Alim Ulama) juga akan menjadi bagian penting dari persiapan menuju Muktamar 2026. Konbes dan Munas tersebut diharapkan dapat memberikan landasan struktural yang kuat bagi pelaksanaan Muktamar dan konsolidasi organisasi yang lebih baik.
Sementara itu, Penjabat Ketua Umum PBNU Kelompok Sultan, KH Zulfa Mustofa, menyatakan kesiapan pihaknya untuk menjalankan agenda menuju Muktamar 2026. Ia menegaskan bahwa konsolidasi internal menjadi fokus utama untuk memastikan kelancaran pelaksanaan Muktamar pada tahun 2026. "Kami akan melakukan percepatan dan konsolidasi internal, termasuk menyiapkan Konbes, Munas Alim Ulama, dan memastikan kesiapan menuju Muktamar 2026," katanya.
Kiai Zulfa juga menegaskan bahwa pemulihan tatanan organisasi menjadi prioritas agar Muktamar dapat berlangsung tertib dan sesuai dengan ketentuan yang ada dalam jam'iyyah. Menurutnya, langkah-langkah yang tepat dalam konsolidasi internal sangat penting untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi Muktamar yang akan datang.
Dengan berbagai langkah konsolidasi dan persiapan yang sedang dilakukan, diharapkan Muktamar Ke-35 NU bisa dilaksanakan dengan sukses dan sesuai dengan ketentuan organisasi. Gus Yahya dan seluruh jajaran pengurus PBNU berkomitmen untuk menjaga integritas dan keberlanjutan organisasi dalam menjalankan setiap tahapan menuju Muktamar 2026.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!