Gus Heri: Muktamar NU Harus Melampaui Suksesi Figur
Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan dalam wawancara khusus TVRI Jawa Timur untuk program berita Jawa Timur Hari Ini, Rabu (26/8/2026)./visi.news/ist.
VISI.NEWS — Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang diharapkan tidak berhenti pada kontestasi pemilihan pemimpin. Lebih dari itu, Muktamar dapat menjadi momentum memperkuat kebersamaan, menjaga keberlanjutan jam'iyah, serta meneguhkan arah khidmah NU ke depan.
Pandangan itu disampaikan Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, yang akrab disapa Gus Heri, akademisi muda dari kalangan Nahdliyin, dalam wawancara khusus TVRI Jawa Timur untuk program berita Jawa Timur Hari Ini, Rabu (26/8/2026).
Gus Heri menekuni kajian kepemimpinan, suksesi, dan keberlanjutan organisasi berbasis nilai. Riset doktoralnya secara khusus mendalami proses suksesi pada organisasi berbasis nilai yang mampu bertahan lintas generasi berusia lebih dari satu abad, bahkan ada yang telah memasuki abad ketiga serta bagaimana nilai, kepemimpinan, dan keberlanjutan organisasi tetap terjaga ketika terjadi pergantian generasi.
Pengalaman riset tersebut menjadi salah satu pijakan Gus Heri ketika diminta memberikan perspektif mengenai kepemimpinan NU menjelang Muktamar. Namun, ia memilih menempatkannya sebagai bahan urun rembug, bukan sebagai alat untuk menilai figur yang sedang berkontestasi.
“Saya tidak sedang menilai siapa yang paling layak memimpin NU. Saya hanya ingin nderek urun rembug melalui perspektif yang selama ini saya pelajari dan teliti tentang suksesi kepemimpinan dan keberlanjutan organisasi berbasis nilai. Kalau soal figur, saya nderek para kiai dan para muktamirin,” kata Gus Heri.
Sebelum menyampaikan pandangannya, ia mengucapkan selamat atas penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU di Jombang. Ia juga menyampaikan ahlan wa sahlan, selamat datang kepada para kiai, muktamirin, warga Nahdliyin, serta para tamu yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia maupun mancanegara.
Menurut dia, Jombang pada momentum Muktamar menjadi salah satu pusat perhatian warga Nahdliyin. Ia berharap Muktamar berlangsung dengan khidmat, penuh adab, persaudaraan, dan kegembiraan, serta menghasilkan keputusan terbaik bagi keberlanjutan jam'iyah dan kemaslahatan jamaah.
“Muktamar bukan hanya tentang siapa yang terpilih. Muktamar adalah cara sebuah organisasi memastikan perjuangannya tidak berhenti ketika pemimpinnya berganti,” ujarnya.
Ia menilai perbedaan pilihan merupakan bagian yang wajar dalam sebuah permusyawaratan. Namun, setelah proses tersebut selesai, seluruh energi perlu kembali dipertemukan dalam semangat khidmah kepada NU.
“Perbedaan pilihan adalah bagian dari Muktamar, tetapi ukhuwah dan khidmah kepada jam'iyah harus jauh lebih panjang daripada kontestasinya. Siapa pun yang nantinya mendapat amanah, yang harus menang adalah NU,” katanya.
Kompetensi, Nilai, dan Kepercayaan
Dalam melihat kepemimpinan NU ke depan, Gus Heri menawarkan tiga unsur sebagai perspektif untuk membaca proses suksesi, yakni kompetensi, kemampuan menjaga nilai, dan kepercayaan.
Dalam riset kepemimpinan yang dilakukannya, ketiga unsur tersebut dirangkum dalam merit, value, dan legitimacy.
Merit berkaitan dengan kapasitas untuk memimpin dan menggerakkan organisasi. Hal itu menjadi penting mengingat NU memiliki struktur, jaringan, dan ruang khidmah yang sangat luas.
Namun, menurut Gus Heri, kecakapan mengelola organisasi tidak dapat berdiri sendiri. NU tumbuh dengan tradisi, kultur pesantren, sanad keilmuan, adab, serta nilai-nilai khidmah yang diwariskan dan dijaga para ulama dari generasi ke generasi.
Karena itu, kemampuan menghadapi perubahan zaman perlu berjalan bersama dengan kemampuan merawat nilai dan jati diri jam'iyah. Sementara legitimasi berkaitan dengan penerimaan dan kepercayaan terhadap kepemimpinan.
“Kalau disederhanakan, merit membuat seseorang mampu memimpin, value memberikan arah kepemimpinan, dan legitimacy membuat kepemimpinan itu dipercaya dan diterima,” katanya.
Menurut dia, legitimasi tidak selesai ketika seseorang memperoleh dukungan dalam proses pemilihan. Ujian berikutnya terletak pada kemampuan merawat kepercayaan, mengelola perbedaan, dan merangkul kembali seluruh elemen jam'iyah.
Rekam Jejak sebagai Rekam Khidmah
Pengalaman dan rekam jejak organisasi juga dinilai penting dalam melihat perjalanan kepemimpinan seseorang.
Namun, Gus Heri mengatakan rekam jejak tidak semestinya hanya dibaca dari panjangnya daftar jabatan. Jejak pengabdian dan manfaat yang ditinggalkan selama seseorang memperoleh amanah juga penting diperhatikan.
“Kalau boleh menggunakan istilah sederhana, jangan hanya melihat curriculum vitae, tetapi juga curriculum of contribution. Bukan sekadar pernah menjadi apa, tetapi apa yang telah dikerjakan ketika memperoleh amanah dan manfaat apa yang ditinggalkan,” ujarnya.
Ia juga berpandangan kedalaman keulamaan, kemampuan mengelola organisasi, dan wawasan kebangsaan tidak perlu dipertentangkan. Ketiganya dapat saling melengkapi dalam kepemimpinan jam'iyah.
Menurut dia, kecakapan mengelola organisasi perlu berjalan bersama kedalaman nilai, keteladanan, serta kemampuan merawat adab dan kebersamaan di tengah perbedaan.
“Kebijaksanaan tanpa kemampuan eksekusi akan sulit diwujudkan menjadi gerakan. Sebaliknya, kemampuan manajerial tanpa nilai juga berisiko kehilangan arah. Keduanya perlu berjalan bersama,”*katanya.
Dari Kontestasi Menuju Konsolidasi
Gus Heri memandang pergantian kepemimpinan sebagai bagian dari perjalanan panjang organisasi. Karena itu, pergantian kepemimpinan tidak berarti seluruh perjalanan harus dimulai kembali dari awal.
Hal-hal baik yang telah dibangun dapat diteruskan, yang masih kurang dapat disempurnakan, sedangkan tantangan baru perlu dijawab sesuai perkembangan zaman.
Dalam konteks tersebut, konsolidasi setelah Muktamar menjadi penting.
Gus Heri merangkum pandangannya dalam tiga pergeseran: dari figur menuju kapasitas, dari kontestasi menuju konsolidasi, dan dari pergantian menuju keberlanjutan.
Kaderisasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tersebut. NU memiliki ruang kaderisasi yang luas melalui pesantren, badan otonom, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, struktur jam'iyah, hingga berbagai ruang pengabdian di tengah masyarakat.
“Organisasi yang kuat bukan hanya memiliki pemimpin yang baik hari ini, tetapi juga memiliki proses yang memungkinkan lahirnya generasi-generasi pemimpin pada masa mendatang,” ujarnya.
Merawat Independensi
Sebagai jam'iyah besar, NU tentu berinteraksi dengan pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan berbagai elemen bangsa.
Dalam konteks tersebut, Gus Heri menilai independensi organisasi penting untuk terus dirawat. Independensi, menurut dia, tidak berarti NU harus mengambil jarak dari semua pihak. Komunikasi, kerja sama, dan kolaborasi tetap dapat dibangun untuk menghadirkan kemaslahatan.
“Bagi saya, independensi bukan berarti mengisolasi diri. Independensi adalah kemampuan membangun relasi dengan berbagai pihak tanpa kehilangan otonomi dalam menentukan arah,” ujarnya.
Arah tersebut, lanjut dia, tetap berpijak pada nilai, kepentingan jam'iyah dan jamaah, serta kemaslahatan bangsa.
Dari Nahdlatut Tujjar Menuju Keberdayaan Ekonomi
Selain keberlanjutan organisasi, Gus Heri melihat pemberdayaan ekonomi warga sebagai salah satu agenda yang layak terus diperkuat.
Pada bagian ini, perhatian Gus Heri tidak hanya berangkat dari kajian akademik. Ia juga dikenal sebagai penggerak santripreneur yang selama ini terlibat dalam pengembangan kewirausahaan berbasis pesantren dan peningkatan kapasitas kewirausahaan santri serta generasi muda.
Perjalanan tersebut turut mengantarkannya meraih Santripreneur Award 2025 dalam ajang Santripreneur Indonesia yang berlangsung di Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Dari pengalaman tersebut, Gus Heri melihat pesantren dan komunitas santri tidak hanya mempunyai kekuatan pendidikan dan sosial, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan.
Menurut dia, NU mempunyai modal sosial yang besar. Pesantren, lembaga pendidikan, UMKM, pengusaha, profesional, generasi muda, komunitas, serta luasnya jejaring warga merupakan kekuatan yang dapat semakin dihubungkan.
Dalam konteks itu, spirit Nahdlatut Tujjar dinilai tetap relevan untuk dimaknai kembali sesuai perkembangan zaman.
Tantangannya bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menerjemahkan semangat kemandirian tersebut melalui penguatan kewirausahaan, UMKM, inovasi, teknologi, akses pasar, dan jejaring ekonomi warga.
“Besarnya jumlah warga jangan hanya menjadikan Nahdliyin sebagai pasar. Mudah-mudahan semakin banyak warga Nahdliyin yang tumbuh menjadi pelaku produksi, kewirausahaan, inovasi, dan penciptaan nilai,” kata Gus Heri.
Menurut dia, pemberdayaan ekonomi tidak dapat dibebankan kepada satu figur ataupun satu struktur. Kolaborasi pesantren, pengusaha, profesional, akademisi, komunitas, lembaga ekonomi, dan berbagai elemen warga diperlukan untuk membangun ekosistem yang saling menguatkan.
Spirit Nahdlatut Tujjar, kata Gus Heri, akan menemukan relevansinya ketika mampu diterjemahkan menjadi keberdayaan ekonomi yang benar-benar dirasakan warga.
Pada akhirnya, ia memandang Muktamar sebagai momentum untuk merawat kesinambungan perjalanan NU dari satu generasi ke generasi berikutnya menjaga nilai, memperkuat jam'iyah, sekaligus memperluas kebermanfaatannya bagi jamaah.
“Pemimpin boleh berganti, tetapi nilai harus tetap hidup, jam'iyah semakin kuat, ukhuwah semakin terawat, dan jamaah semakin berdaya,” pungkasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!