Drama Final Dimulai! Persib Tertahan, Persebaya Menggigit 1-1 6 Aug 2026 Polrestabes Bandung Siagakan 1.380 Personel Amankan Final Piala Presiden 6 Aug 2026 PowerCore 5.0 Meluncur, Solusi Listrik Prefabrikasi Pertama untuk Pusat Data AI Berdaya Tinggi 6 Aug 2026 STEM Jadi Kunci, Menaker Dorong Lulusan Kampus Siap Hadapi Dunia Kerja 6 Aug 2026 Penentuan Semifinal ASEAN Hyundai Cup 2026 Dimulai, Indonesia Wajib Menang atas Singapura 6 Aug 2026 HYPTEC HT Tampil Dua Wajah di GIIAS 2026, GAC Buktikan SUV Listrik Bisa Bergaya Mewah hingga Rally Dakar 6 Aug 2026 Ekonomi Jabar Tumbuh 5,73 Persen, Kemiskinan Turun ke 6,54 Persen 6 Aug 2026 Persija Kalahkan Arema FC 3-1, Raih Peringkat Ketiga Piala Presiden 2026 6 Aug 2026 Persija vs Arema FC Imbang 1-1 pada Babak Pertama 6 Aug 2026 PN Jakarta Selatan Tolak Praperadilan Ketiga Roy Suryo 6 Aug 2026 Drama Final Dimulai! Persib Tertahan, Persebaya Menggigit 1-1 6 Aug 2026 Polrestabes Bandung Siagakan 1.380 Personel Amankan Final Piala Presiden 6 Aug 2026 PowerCore 5.0 Meluncur, Solusi Listrik Prefabrikasi Pertama untuk Pusat Data AI Berdaya Tinggi 6 Aug 2026 STEM Jadi Kunci, Menaker Dorong Lulusan Kampus Siap Hadapi Dunia Kerja 6 Aug 2026 Penentuan Semifinal ASEAN Hyundai Cup 2026 Dimulai, Indonesia Wajib Menang atas Singapura 6 Aug 2026 HYPTEC HT Tampil Dua Wajah di GIIAS 2026, GAC Buktikan SUV Listrik Bisa Bergaya Mewah hingga Rally Dakar 6 Aug 2026 Ekonomi Jabar Tumbuh 5,73 Persen, Kemiskinan Turun ke 6,54 Persen 6 Aug 2026 Persija Kalahkan Arema FC 3-1, Raih Peringkat Ketiga Piala Presiden 2026 6 Aug 2026 Persija vs Arema FC Imbang 1-1 pada Babak Pertama 6 Aug 2026 PN Jakarta Selatan Tolak Praperadilan Ketiga Roy Suryo 6 Aug 2026

Gubuk Ibrahim Adjie: Dari Tempat Perburuan hingga Simbol Sejarah yang Terlupakan

ED
Rabu, 29 Oktober 2025 | 16:06 WIB
Bagikan
Gubuk Ibrahim Adjie: Dari Tempat Perburuan hingga Simbol Sejarah yang Terlupakan

Namun, ada harapan yang kini muncul di balik kerusakan itu. Keluarga besar Ibrahim Adjie memutuskan untuk merenovasi gubuk tersebut, menjadikannya sebuah museum kecil yang akan menyimpan kenangan dan barang-barang peninggalan dari sang mantan Panglima. Renovasi ini tidak hanya bertujuan untuk merawat kenangan akan Ibrahim Adjie, tetapi juga untuk menghidupkan kembali semangat yang pernah ada di sini—semangat perburuan, semangat perjuangan, dan semangat kebanggaan terhadap sejarah Bandung dan Indonesia.

Meski dalam proses renovasi, gubuk ini tetap menarik perhatian banyak pengunjung. Di depannya, terdapat area flying fox yang menawarkan adrenalin tinggi. Pengunjung bisa merasakan sensasi meluncur lebih dari 10 meter di atas Sungai Ci Tarik, menikmati pemandangan yang indah, dan sejenak melupakan masa lalu yang penuh kenangan kelam. Ironisnya, di atas bangunan yang penuh sejarah ini, pengunjung bisa merasakan kebebasan yang seakan menyembunyikan kerapuhan sejarah yang ada di bawahnya.

Ibrahim Adjie, yang lahir pada 24 Februari 1924 dan wafat pada 25 Juli 1999, adalah sosok yang lebih dikenal dalam dunia militer dan sejarah Indonesia. Sebagai Panglima Kodam VI/Siliwangi pada 1960-1966, ia berhasil mengakhiri pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Dalam karirnya, Adjie dikenal sebagai sosok yang teguh dan berani. Namun, di luar dunia militer, ia juga seorang pria yang memiliki sisi manusiawi dengan kecintaan pada alam dan hobi berburu.

Tapi, yang paling menarik adalah kenyataan bahwa meskipun Ibrahim Adjie memiliki banyak prestasi dan pengaruh besar dalam sejarah Indonesia, kehidupan pribadinya—terutama hobinya berburu—ternyata juga memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan alam dan konservasi di kawasan ini. Ia adalah salah satu yang pertama kali menginspirasi penangkaran rusa dan pembentukan status kawasan ini menjadi Taman Buru, yang kini menjadi ruang konservasi penting.

Gubuk Ibrahim Adjie kalau direnovasi, akan menjadikan kawasan ini juga mengalami perubahan. Dengan semakin banyaknya orang yang tertarik untuk mengunjungi, kawasan ini akan mendapatkan perhatian yang lebih besar. Namun, di balik kemajuan itu, terdapat dilema besar yang tak bisa diabaikan. Sejarah yang kaya dan tanah yang penuh makna ini seharusnya bisa menjadi sarana pendidikan yang menyeluruh tentang masa lalu, perjuangan, dan konservasi alam. Tetapi, jika tidak dikelola dengan baik, situs sejarah ini akan tetap menjadi sebuah kenangan yang terabaikan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.