Generasi yang Dipatahkan: Mahasiswa Myanmar Gugur di Balik Jeruji Pasca Kudeta
Dalam pernyataan mereka disebutkan, “Karena tahanan politik tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai, kekurangan obat-obatan, dan pembatasan kontak dengan keluarga, Ma Wutt Yee Aung meninggal di penjara sekitar pukul 21.30 pada 19 Juli 2025.”
Pihak junta tidak menanggapi permintaan komentar mengenai dugaan perlakuan buruk terhadap tahanan.
Kisah lain datang dari Khant Linn Naing, mahasiswa sejarah yang juga aktif dalam gerakan mahasiswa. Ia ditangkap pada Desember 2021 dan divonis 15 tahun penjara. Ia ditahan di Penjara Daik-U, sekitar 110 kilometer dari Yangon. Keluarganya mengetahui kabar kematiannya lewat surat resmi dari otoritas penjara pada Juli 2023. Surat itu menyebut ia ditembak saat mencoba melarikan diri ketika dipindahkan.
Namun keluarga meragukan penjelasan tersebut.
Seorang kerabat mengatakan, “Karena isi surat itu sangat tidak jelas, kami tidak percaya dia benar-benar sudah meninggal.”
PPNM juga mempertanyakan versi resmi itu. Juru bicaranya menyatakan, “Tidak masuk akal jika dia mencoba melarikan diri karena para tahanan biasanya dibelenggu dan selalu dikawal petugas saat pemindahan.”
Organisasi tersebut mengaku mendapat informasi dari sumber di penjara bahwa Khant Linn Naing mengalami interogasi keras sebelum pemindahan yang disebutkan dalam surat. Hingga kini, keluarga belum menerima jenazah maupun menggelar pemakaman.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya menyatakan bahwa generasi muda Myanmar termasuk yang paling terdampak sejak kudeta, menghadapi penangkapan, penyiksaan, wajib militer, serta pengungsian besar-besaran. Diperkirakan ratusan ribu anak muda telah meninggalkan negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Sementara di sejumlah negara Asia lain gelombang protes pemuda sempat menggoyang kekuasaan, militer Myanmar tetap bertahan dan memperkuat cengkeramannya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!