Gemar Hadir dan Kumpul di Taman Surganya Dunia
Oleh Gus Basir
MAJELIS mudzakarah, majelis taklim, majelis dzikir, dan majelis ilmu merupakan taman-taman syurga yang ada di dunia. Demikian mulianya tempat itu, sehingga diumpamakan sebagai taman-taman syurga yang sangat indah. Rasulullah SAW berpesan pada para sahabat dan umatnya:
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Apabila kamu melewati taman-taman syurga, maka singgahlah dengan rasa cinta. Para sahabat bertanya: Apakah taman-taman syurga itu? Nabi menjawab: Halaqah-halaqah atau kelompok majelis zikir. (HR. Tirmdizi,).
Majelis zikir biasanya dihadiri beberapa orang, dipimpin oleh ustadz atau guru dengan membaca kalimat yang terdiri dari ayat-ayat al-Qur’an seperti surat al-Ikhlas, al-Falaq, al-Nas, al-Fatihah, awal surat al-Baqarah, ayat kursi, tiga ayat terakhir dari al-Baqarah dan sebagainya. Selanjutnya dibacakan zikir seperti tasbih atau ucapa subhanallah. Kemudian tahmid atau ucapan alhamdulillah, takbir atau ucapan Allahu akbar, tahlil atau ucapan laa ilaaha ilallah. Termasuk dalam majelis zikir adalah membaca istighfar dan bacaan-bacaan lain yang disyariatkan.
Majelis zikir adalah majelis ilmu yang membahas ilmu-ilmu agama dan mendiskusikannya. Dari kelompok ini melahirkan tulisan-tulisan dalam pengetahuan agama yang sangat bermanfaat. Majelis taklim atau tempat untuk mencari ilmu seperti pengajian, diskusi keagamaan dan sebagainya termasuk bagian dari majelis zikir.
Majelis sebagaimana disebutkan di atas merupakan tempat yang sangat mulia, sehingga para malaikat ikut hadir bergabung dengan mereka dan memohonkan rahmat kepada Allah untuk anggota majelis tersebut. Nabi bersabda:
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ المَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عليهمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَن عِنْدَهُ
"Tidak duduk sekelompok orang yang melaksanakan zikir kepada Allah azza wa jalla, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka dan Allah s.w.t. menyebut nama mereka di hadapan para malaikat yang ada pada sisi-Nya. (HR. Muslim,).
Segala kegiatan yang bersifat ilmiah seperti belajar di sekolah, madrasah, masjid-masjid, pesantren, dan sebagainya akan mengantarkan umat manusia menjadi kaum cendikiawan muslim. Mereka selalu memikirkan dan mengadakan penelitian terhadap segala apa yang ada di alam semesta dengan segala isinya. Mereka meneliti berbagai kejadian dan peristiwa yang sangat menakjubkan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dari penelitian itu, lahirlah berbagai macam ilmu, baik ilmu keagamaan maupun sains dan teknologi.
Para cendikiawan muslim dan ulama dikelompokkan sebagai ulul albab, keadaan mereka disebutkan dalam al-Qur’an:
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran,).
Perintah untuk melaksanakan zikir banyak disebutkan dalam ayat al-Qur’an, antara lain:
وَٱذۡكُر رَّبَّكَ فِي نَفۡسِكَ تَضَرُّعٗا وَخِيفَةٗ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf,).
Dalam al-Sunnah banyak sekali disebutkan mengenai perintah berzikir, belajar, mencari ilmu, dan berdiskusi, antara lain:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah berkumpul sekelompok orang dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah. Mereka membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan saling belajar di antara mereka (berdiskusi) kecuali mereka dikaruniai ketenangan, dinaungi oleh rahmat Allah. Para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah s.w.t. menyebut mereka di kalangan para malaikat. (HR. Muslim,).
Majelis taklim atau mejelis ilmu memiliki keutamaan yang sangat tinggi, sehingga mereka yang aktif di dalamnya digambarkan sebagai seorang mujahid fi sabilillah. Nabi bersabda:
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
"Barang siapa yang mendatangi masjidku ini, ia tidak mendatanginya kecuali untuk kebaikan, untuk belajar atau mengajar, maka kedudukannya seperti pejuang di jalan Allah. Dan barang siapa yang datang selain dari itu, maka menempati orang yang suka melihat-lihat barang yang lain dari itu. (HR. Ibnu Majah).
Rasulullah SAW berpesan kepada Abi Zar:
يَا أَبَا ذَرٍّ لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ وَلَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنْ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ
"Wahai Abi Zar sesungguhnya engkau berangkat pagi hari untuk mempelajari satu ayat dari kitabullah, hal itu lebih baik bagimu dari melaksanakan salat sunnah seratus rakaat. Dan apabila engkau berangkat pada pagi hari untuk mempelajari satu bab ilmu, baik diamalkan atau tidak (belum diamalkan), maka hal itu lebih baik bagimu daripada melaksanakan salat sunnah seribu rakaat. (HR. Ibnu Majah).
Alangkah mulianya orang-orang yang mendatangi majlis ilmu untuk belajar. Bagaimana tidak? baru berniat, mereka sudah mendapatkan pahala, dan ketika mereka melangkahkan kaki, maka setiap langkahnya akan dicatat satu kebaikan.
Lalu para malaikat yang berada di atasnya memayungi mereka dengan sayapnya dan mengantarkan menuju ke majelis ilmu seraya menaburkan rahmat dan keberkahan untuknya. Saking mulianya para pencari ilmu, di samping ada taburan berkah dan rahmat, maka ketika ada yang mati dalam perjalanan menuju ke majelis ilmu atau mati ketika sedang mengangsu (menimba) ilmu, kematiannya akan mengantarkan ke derajat yang tinggi.
Hadits nabi:
من جَاءَهُ أَجَلُهُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمِ لَقِىَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّيْنَ إِلَّا دَرَجَةُ النُّبُوَّةِ
Artinya: Barang siapa yang kedatangan ajal dan dia sedang menuntut ilmu, maka dia akan bertemu Allah (dengan derajat tinggi) di mana tidak ada lagi jarak antara dia dan para nabi melainkan satu derajat kenabian.
Hasil dari majelis ilmu, jadikan keberkahan dengan beramal, maka akan meraih buahnya/manisnya ilmu.
Buah dari ilmu adalah adab dan akhlakul karimah. Selain itu, buah dari ilmu juga bisa berupa hidayah yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Berikut ini adalah beberapa keutamaan orang yang berilmu:
- Ilmu merupakan warisan para nabi.
- Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu.
- Ilmu akan memberikan manfaat meski telah meninggal.
- Orang yang belajar satu bab ilmu lebih utama dari orang yang shalat sunnah sebanyak seribu rakaat.
Untuk mendapatkan ilmu yang berkah, seseorang bisa melakukan sanad guru dan khidmah. Sanad guru adalah rantai ilmu yang tersambung kepada lisannya Rasulullah SAW.
Sedangkan khidmah adalah kunci dari barokahnya ilmu, yang dapat diterjemahkan dengan pengabdian.
Satu riwayat.
روي ان موسى عليه السلام لما أراد أن يفارق الخضر. قال له اوصني.قال لا تطلب العلم لتحدث به واطلبه لتعمل به.
"Diriwayatkan. Bahwa Nabi Musa As. Hendak berpisah dengan nabi khidir As. Beliau berkata kepadanya, 'Berilah wasiat/Pesan. Nabi Khidir As berkata', Janganlah Engkau mencari Ilmu untuk meriwayatkan atau membicarakannya, tapi carilah ilmu untuk mengamalkannya".
Ketika sekian ilmu dikaji maka akan menyadari dirinya merasa bodoh, seperti di ungkapkan oleh Imam syafii. Beliau berkata :
Imam Syafi’i dalam suatu riwayat berkata: “Saya makin terlihat bodoh, saat saya mendapatkan ilmu.”
Maksud dari ungkapan Imam Syafi’i tersebut adalah bahwa ilmu yang baru didapatkannya itu kenapa baru didapatkannya, tidak dari dahulunya. Kok, baru sekarang dia mendapatkan ilmu tersebut. Allahu a’lam. Alasan beliau.
Merujuk pada surah Al-Kahfi, Allah SWT berfirman:
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا
“Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi ).
Ayat diatas menggambarkan betapa luasnya ilmu yang dimiliki Allah SWT. Karena itu, manusia tak boleh merasa puas dengan apa yang sudah dperolehnya, karna sedikit yang baru di peroleh ilmunya maka menyadari bodoh karna masih luas dan banyak yang harus di kaji.
Sibuk kan hidup kita dengan mengaji atau hadir d majelis ilmi sebab dalam keterangan kitab nihayatuz zain yang isinya:
الاشتعال بالعلوم افضال من اشتغال بالاذكار والنوافل.ولوكان من العوام فحضورة مجالس العلم افضال من الاشتغال بالاذكار.
"Sibuk dengan ilmu itu lebih baik daripada sibuk dengan berdzikir atau ibadah-ibada sunah lainnya. Apabila dia seorang Awam (orang yang tidak paham Ilmu Agama) maka hadir d majelis majelis Ilmu itu lebih baik daripada menyibukkan diri dengan membaca wirid-wirid". Lanjut lagi, dalam kitab tanwirul qulub juga menjelaskan.
قال كعب الاخبار رضي الله عنه: لو ان ثواب المجالس العلماء بدا للناس لاقتتلوا عليه حتى يترك كل ذي إمارة امارته وكل ذي سوق سوقه.
"Imam Ka'ab Al akbar Ra berkata : sungguh andaikan pahala majelis ilmu para ulama itu tampak di mata orang orang, tentu mereka akan berlomba lomba untuk menghadirinya, sehingga orang yang punya kekuasaan akan meninggalkan kekuasaannya, begitu juga orang yang punya warung/toko di pasar pun, mereka akan meninggalkan warungnya ( hanya karna ingin menghadiri dan mendapatkan pahala majelis ilmu ".
Ingat (kata mutiara dari kitab Al Hadiqotu Al Aniqoh hal: 26), menyatakan,
تعلم ليس المرء يولد عالما وليس اخو علم كمن هو جاهل .
"Belajarlah!!! Sebab manusia tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan orang yang berilmu tidak seperti orang yang tidak berilmu (Tidak sama). Mudah mudahan kita semua termasuk golongan hamba yang gemar hadir di majelis dzikir dan haus ilmu sehingga bisa beramal sesuai ilmunya. Amiinn.
- Gus Basir Ketua LBM MWC NU Jatitujuh & Pimpinan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin, Sumur Wetan Cipaku, Jatitengah, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!