Gelombang Serangan Berdarah di Balochistan: 145 Militan Tewas Usai Dua Hari Pertempuran Di Tengah Tragedi Sipil
VISI.NEWS | BANDUNG — Dua hari pertempuran sengit antara pasukan keamanan Pakistan dan kelompok militan di provinsi Balochistan berakhir dengan 145 militan tewas, setelah gelombang serangan yang mengguncang wilayah itu dan menewaskan hampir 50 warga sipil serta petugas, menurut pernyataan pejabat pada Minggu (1/2/2026).
Serangan yang terjadi sejak Jumat malam hingga Sabtu ini menggambarkan salah satu eskalasi paling berdarah dalam beberapa tahun terakhir di provinsi yang kaya sumber daya dan berbatasan dengan Iran dan Afghanistan. Militan dari kelompok terlarang Baloch Liberation Army (BLA) mengklaim bertanggung jawab atas operasi terkoordinasi yang mereka sebut “Herof” atau “badai hitam”, dengan sasaran utama pasukan keamanan Pakistan di berbagai distrik.
“Dalam setiap kasus, para penyerang datang berpakaian seperti warga sipil dan menargetkan orang-orang biasa yang sedang bekerja di toko-toko,” ujar Talal Chaudhry, Menteri Dalam Negeri Junior Pakistan, menjelaskan modus serangan yang mengejutkan penduduk setempat.
Sasarannya tidak hanya fasilitas militer. Rumah sakit, sekolah, bank, dan pasar dipilih oleh para penyerang, yang menurut pejabat Pakistan bahkan menggunakan warga sipil sebagai tameng dalam beberapa insiden.
Implikasi dari serangan ini terlihat jelas di Quetta, ibu kota provinsi, di mana kendaraan hangus dan pintu-pintu berlubang bekas tembakan menjadi pemandangan umum. Jalan-jalan utama disegel dengan garis polisi, sementara pasukan keamanan meningkatkan patroli dan membatasi pergerakan warga untuk mencegah ancaman lanjutan.
Sarfraz Bugti, Ketua Menteri Balochistan, merinci korban dalam tragedi ini, menyebut 17 anggota penegak hukum dan 31 warga sipil tewas akibat gelombang serangan tersebut. Berdasarkan pernyataan militer Pakistan, 92 militan tewas pada hari Sabtu dan 41 lainnya tewas pada hari sebelumnya, Jumat.
“Kami memiliki laporan intelijen bahwa operasi semacam ini sedang direncanakan, dan sebagai hasil laporan itu, kami memulai pra-operasi satu hari sebelumnya,” kata Bugti, menegaskan bahwa pihak berwenang telah mencoba mencegah serangan tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!