Gelombang Serangan Berdarah di Balochistan: 145 Militan Tewas Usai Dua Hari Pertempuran Di Tengah Tragedi Sipil

ED
Senin, 2 Februari 2026 | 12:06 WIB
Bagikan
Gelombang Serangan Berdarah di Balochistan: 145 Militan Tewas Usai Dua Hari Pertempuran Di Tengah Tragedi Sipil

Para pejabat juga menjelaskan bahwa serangan diluncurkan hampir bersamaan di beberapa distrik termasuk Quetta, Gwadar, Mastung, dan Noshki. Militan mencoba menyerang markas besar Frontier Corps, melakukan percobaan pengeboman bunuh diri, serta sempat memblokir jalan-jalan utama, yang memicu respons besar-besaran dari tentara, polisi, dan unit anti-terorisme.

Di luar sebuah toko yang rusak akibat bentrokan, seorang petugas keamanan swasta, Jamil Ahmed Mashwani, menceritakan pengalaman langsungnya. “Mereka memukul saya di wajah dan kepala,” ungkap Mashwani, menggambarkan kekerasan brutal yang terjadi di jalanan.

Serangan ini kemudian mendapat sorotan lebih luas ketika Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan dua di antara para penyerang adalah perempuan, menandakan perubahan taktik kelompok militan yang kini semakin sering menargetkan warga sipil, pekerja kasar, dan komunitas berpenghasilan rendah.

Militer Pakistan menyatakan bahwa upaya militan untuk menguasai kota atau instalasi strategis berhasil digagalkan. Namun klaim tersebut dibantah di arena politik internasional; militer Pakistan menuding serangan ini dilakukan oleh “militan yang disponsori India”. Tuduhan ini langsung dibantah oleh pemerintah India. “Kami menolak keras tuduhan tak berdasar yang dibuat oleh Pakistan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal, seraya menekankan Islamabad perlu menangani tuntutan panjang rakyat di wilayah tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat mengutuk serangan ini sebagai tindakan kekerasan teroris dan menyatakan solidaritas dengan Pakistan, melalui pernyataan Chargé d’Affaires AS Natalie Baker. Kelompok Balochistan Liberation Army sendiri sudah diklasifikasikan oleh AS sebagai organisasi teroris asing.

Balochistan sendiri telah lama menghadapi pemberontakan oleh kelompok separatis etnis Baloch yang menuntut otonomi lebih besar dan pembagian lebih adil atas sumber daya alam daerah tersebut. Serangan terbaru ini menambah panjang daftar konflik yang menelan nyawa warga sipil dan petugas keamanan, sekaligus memicu kekhawatiran akan stabilitas di kawasan selatan Pakistan. @kanaya

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.