Garin Mendapat Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Seni Penciptaan Film
Garin yang termasuk pelopor kebangkitan perfilman nasional 80-an dengan 65 penghargaan, dalam orasi ilmiah berjudul "Strategi Budaya Sebagai Oase Masyarakat Sipil yang Demokratis", melontarkan pertanyaan mendasar kenapa kita tidak menjadikan kebudayaan sebagai panglima atau sebagai oase masyarakat sipil yang demokratis.
"Merujuk kebudayaan sebagai prioritas berbangsa, dalam sejarah Indonesia mencatat,.seluruh filosofi , aspek juridis hingga sosiologi berbangsa, senantiasa berbasis pada kebudayaan dalam berbagai perspektif, baik mikro ataupun makro. Dalam perspektif mikro, kebudayaan terkait keseluruhan hasil karsa, cipta dan rasa manusia Indonesia. Manifestasi kebudayaan berupa berbagai bentuk dan jenis karya seni beserta aktivitasnya," kata Garin.
Perspektif kebudayaan dalam arti luas, menurut Garin harus dilihat sebagai cara berpikir, bertindak dan bereaksi manusia bangsa Indonesia dalam menghadapi perkembangan dinamis dunia yang terus berubah. Hal itu guna menumbuhkan masyarakat sipil yang demokratis dalam keadaban terus menerus.
"Pada gilirannya, kebudayaan menjadi layaknya oasis, sebuah ekosistem cara berpikir, bertindak dan bereaksi dari individu bangsa dan masyarakatnya. Perspektif kebudayaan dalam arti luas, tidak bisa tumbuh dalam cara kerja dan ukuran hanya satu aspek, seperti politik atau ekonomi saja. Kerja berbangsa harus berbasis kebudayaan sebagai suatu ekosistem, layaknya sebuah ekosistem taman di sebuah oasis," tandasnya.
Dalam orasi ilmiah yang diseling pemutaran penggalan-penggalan film karyanya, Garin mengungkapkan, perjalanan karya-karyanya sebagian besar terkait latar belakang era revolusi industri 1.0 – 2,0.
Sebanyak 8 penggalan film, di antaranya "Tjokroaminoto", "Sugiyo", "Puisi Tak Terkuburkan", "Cinta Dalam Sepotong Roti", "Aku Ingin Menciummu Sekali Saja", "Opera Jawa", "Setan Jawa" dan "Kucumbu Tubuh Indahmu." Dia menyebutkan film "Tjokroaminoto" terkait dengan sejarah awal "Syarikat Islam" sebagai organisasi politik pertama di masa kolonial. Film "Nyai" dia adaptasi dari novel "Bumi Manusia" awal abad 20 yang fokus pada isu Islam, mistisme dan perubahan dunia dari revolusi 1.0-2.0.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!