Forum Agama (R20) di Bali dan Kesigapan PBNU Menganulir Rekomendasi LDNU Kepada Pemerintah
Semua binasa ketika berniat buruk pada NU !
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, sangat paham maksud dari bait lirik ini, dan itu sudah sangat terbukti dari berbagai peristiwa yang terjadi dengan NU.
Sekarang dihadapan mata kita, NU tengah mengadakan perhelatan besar, mengadakan hajatnya berbagai agama besar dan kepercayaan yang di adakan berbarengan dengan G20, yakni forum internasional yang fokus pada koordinasi kebijakan di bidang ekonomi dan pembangunan. G20 merepresentasikan kekuatan ekonomi dan politik dunia. Dan cerdiknya Gus Yahya ini, Forum Agama (R20) pun diadakan berbarengan dengan perhelatan G20 itu.
Dimana dalam (R20) ini, akan membahas upaya menjadikan agama sebagai solusi permasalahan global, dan forum R20 yang dilaksanakan 2-3 November 2022 di Bali ini, harus merepresentasikan organisasi NU yang berkeadaban, dan betul-betul merefleksikan slogan di hari santri kemarin yang mengusung, "Berdaya Menjaga Martabat Kemanusian".
Andai PBNU tak sigap, dan tak menganulir rekomendasi LDNU yang disodorkan pada pemerintah, bisa jadi, walau ada forum R20, dan tuan rumahnya adalah NU itu sendiri, tetap saja NU akan terkena imbas !
Yakni turunnya kepercayaan publik terhadap PBNU, sebagai organisasi ormas Islam terbesar di Indonesia, yang harus menelan pil pahit, karena adanya rekomendasi dari PB LDNU tersebut yang tak segera diantisipasi.
Beruntungnya, Ketua, Sekjen, dan Rais Am segera tersadar, posisi PBNU sebagai pengagas Forum Agama R20 sebagai barometer membangun wajah Islam yang teduh akhirnya bisa terselamatkan dengan adanya instruksi bernomor 225/PB.03/A.I.03.41/99/10/2022. Yang menganulir permintaan LDNU kepada pemerintah. Maka selamatlah wajah NU kita, hingga tak jadi menelan malu.
Alhamdulillah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!