Forum Agama (R20) di Bali dan Kesigapan PBNU Menganulir Rekomendasi LDNU Kepada Pemerintah
Sehingga keputusan LD PBNU melarang penyebaran paham wahabi yang rekomendasinya dihasilkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IX PBNU pada 25-27 Oktober 2022 lalu tidak sah atau tidak perlu ditanggapi oleh pemerintah.
Intinya yang di khawatirkan pengurus PBNU dari hasil rekomendasi LDNU itu kepada pemerintah adalah, akan tercerabutnya marwah NU sebagai organisasi Islam yang mengedepankan sikap tawasuth, dan non politis, akan ambigu nantinya, karena bagi NU dibawah Gus Yahya Kholil Staquf, tawasuth sebagai jalan dan sikap berada di tengah, serta non politis adalah harga mati bagi PBNU kini.
Lalu ditilik dari sisi dakwah kaum Nahdliyin sendiri di lapangan, para kiai di NU, mereka memang melihat gejala wahabisme sangat mengikis pola dakwah yang diwariskan para wali, yang mereka jalankan selama ini, yakni pola syiar dakwah yang membumi, toleran, yang mengedepankan nilai spiritual dalam membangun, "Islam yang rahmatan lil 'alamin," dengan mengedepankan dan menjaga martabat kemanusiaan, sesuai selogan Hari Santri 2022, yang ternyata sangat berbenturan dengan sikap keras dan intoleran yang dibawakan gerakan Wahabi ini.
Yang dalam perjalanan dakwah Wahabi dengan pola tersebut, ternyata syiar Islam corak Wahabi, memiliki kecenderungan merusak tatanan sosial, dan keadaban, sehingga yang terjadi di lapangan, adalah sikap-sikap non toleran, yang akhirnya membuka bibit-bibit radikalisme, seperti apa yang di katakan KH. Aqil Siroj yang menyatakan, "Kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar satu barisan ingin menghadapi, menghabiskan, menghabisi jaringan terorisme dan radikalisme, benihnya yang dihadapin, pintu masuknya yang harus kita habisin, apa? Wahabi! Ajaran Wahabi itu pintu masuknya terorisme," cetus Said dalam sebuah seminar virtual, Selasa (30/3/2021).
PBNU, sangat faham kegundahan para kiai di LD PBNU, namun seiring perjalan NU yang semakin dewasa, menyikapi hal demikian tentu kembali lagi kepada kebesaran jiwa, kepada kesadaran, dan yakin adanya penjagaan para aulia pada NU, sehingga dari mars NU itu sendiri, yakni Yaa Lal Wathon, kita bisa ambil pelajaran dari liriknya, "Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku Jangan halangkan nasibmu Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku S’yapa datang mengancammu ‘Kan binasa dibawah dulimu!”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!