FFB ke-39: Pangku Jadi Film Terpuji, Christine Hakim Raih Lifetime Achievement

ED
PN
Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:51 WIB
Bagikan
FFB ke-39: Pangku Jadi Film Terpuji, Christine Hakim Raih Lifetime Achievement

VISI.NEWS — Malam Puncak Festival Film Bandung (FFB) ke-39 tahun 2026 menjadi ajang apresiasi bagi para insan perfilman Indonesia yang selama ini konsisten berkarya dan ikut menjaga keberlangsungan ekosistem sinema nasional.

Malam penganugerahan FFB ke-39 digelar di Ballroom Hotel Horison Ultima Bandung, Sabtu (22/8/2026) malam. Acara tersebut dihadiri puluhan selebriti, sineas, produser, tokoh perfilman, serta pejabat pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Mengusung tema “Sinema Rona Keluarga”, FFB tahun ini memberikan penghargaan Terpuji kepada sejumlah karya dan pelaku industri film, serial televisi, serta serial web. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan hasil pengamatan independen terhadap ratusan karya yang beredar sepanjang September 2025 hingga Juni 2026.

Dalam periode tersebut, FFB mengamati sebanyak 344 karya yang terdiri atas 144 film Indonesia, 151 film impor, 26 serial televisi, dan 23 serial web.

Film Pangku menjadi salah satu karya yang mendapat sorotan utama dalam malam penghargaan tersebut setelah dinobatkan sebagai Film Indonesia Terpuji. Film tersebut juga mengantarkan Reza Rahadian meraih penghargaan Sutradara Terpuji Film Indonesia.

Claresta Taufan yang tampil dalam Pangku turut mendapatkan penghargaan Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia.

Sementara itu, kategori Pemeran Utama Pria Terpuji Film Indonesia diberikan kepada dua aktor, yakni Jared Ali melalui Children of Heaven dan Reza Rahadian melalui Semua Akan Baik-Baik Saja.

Penghargaan penting lainnya diberikan kepada aktris senior Christine Hakim. Ia menerima Anugerah Lifetime Achievement sebagai bentuk penghargaan atas perjalanan panjang dan kontribusinya dalam dunia perfilman Indonesia.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, keberlangsungan industri perfilman tidak dapat dipisahkan dari keberadaan para pelaku yang menjadi bagian utama ekosistem tersebut.

Menurut Farhan, keberadaan investor dan penonton tidak akan cukup untuk menjaga industri perfilman apabila tidak diimbangi dengan keberadaan insan kreatif yang terus menghasilkan karya.

“Ekosistem perfilman harus punya satu syarat utama, yaitu pelaku. Tanpa pelaku, ekosistem ini akan ambruk. Percuma kita punya investor, percuma kita punya penonton kalau pelakunya tidak ada,” ujar Farhan.

Farhan mengatakan penghargaan dalam FFB merupakan bentuk apresiasi bagi para pelaku yang berhasil mencapai pencapaian terbaik dalam bidangnya. Namun, menurut dia, penghargaan juga seharusnya menjadi bentuk penghormatan kepada para pekerja film yang terus konsisten berkarya.

Ia menilai konsistensi para insan perfilman menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ekosistem sinema Indonesia agar tetap hidup dan berkembang.

Selain menjadi ajang penghargaan, malam puncak FFB ke-39 juga mempertegas hubungan panjang Kota Bandung dengan sejarah perkembangan perfilman Indonesia.

Farhan menyebut sejumlah karya dan perjalanan tokoh perfilman memiliki keterkaitan dengan Bandung. Jejak tersebut antara lain dapat ditelusuri dari Lutung Kasarung, Lewat Tengah Malam, hingga Gadis Marathon.

Menurutnya, film memiliki posisi penting karena dapat menjadi medium yang memperkenalkan kehidupan, kebudayaan, dan identitas suatu bangsa kepada masyarakat luas.

“Film hadir menjadi jendela bagi sebuah bangsa,” kata Farhan.

Ia juga menilai perkembangan film di Bandung tidak dapat dipisahkan dari ekosistem seni dan ekonomi kreatif yang telah tumbuh selama bertahun-tahun. Film, kata dia, merupakan hasil pertemuan berbagai cabang kreativitas, mulai dari desain, seni rupa, musik, teater, tari, hingga teknologi.

“Di Bandung, film itu nanti keluarnya di ujung. Di tengah-tengahnya dibangun oleh musik, oleh teater, oleh tari,” ujar Farhan.

Dalam penyelenggaraan FFB ke-39, penghargaan Terpuji diberikan dalam berbagai kategori yang mencakup film Indonesia, serial web, dan serial televisi. Penghargaan juga diberikan kepada para aktor, sutradara, penulis skenario, hingga pekerja di balik layar.

Pada kategori film Indonesia, selain Pangku sebagai Film Indonesia Terpuji, penghargaan Pemeran Utama Wanita Terpuji diberikan kepada Claresta Taufan untuk Pangku. Kategori Pemeran Utama Pria Terpuji diraih Jared Ali melalui Children of Heaven dan Reza Rahadian melalui Semua Akan Baik-Baik Saja.

Reza Rahadian juga meraih penghargaan Sutradara Terpuji Film Indonesia melalui Pangku.

Meriam Bellina dinobatkan sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Indonesia berkat perannya dalam Senin Harga Naik. Sementara penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji diberikan kepada Aming melalui Ghost in the Cell.

Pada kategori penulisan, Johanna Wattimena dan Bernardus Raka meraih penghargaan Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia untuk Nobody Loves Kay.

Penghargaan teknis juga diberikan kepada sejumlah pekerja film. Vera Lestafa meraih Penata Kamera Terpuji Film Indonesia melalui Dopamin. Aline Jusria meraih Penata Editing Terpuji Film Indonesia untuk film yang sama.

Sementara itu, Rini Sri Handayani mendapat penghargaan Penata Artistik Terpuji Film Indonesia melalui Na Willa. Penghargaan Penata Musik Terpuji Film Indonesia juga diberikan kepada Ofel Obaja Setiawan untuk Na Willa.

Di kategori serial televisi, Adhisty Zara meraih penghargaan Pemeran Wanita Terpuji Serial Televisi melalui Beri Cinta Waktu. Fendy Chow mendapatkan penghargaan Pemeran Pria Terpuji Serial Televisi melalui Terikat Janji.

Untuk kategori serial web, penghargaan Serial Web Terpuji diberikan kepada Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral.

Wulan Guritno meraih penghargaan Pemeran Utama Wanita Terpuji Serial Web melalui Mama-Mama Pengejar Cinta. Sementara Yesaya Abraham dinobatkan sebagai Pemeran Utama Pria Terpuji Serial Web melalui Secret High School.

Penghargaan Sutradara Terpuji Serial Web diberikan kepada Lucky Kuswandi melalui Ratu Ratu Queens: The Series. Randy Martin meraih Pemeran Pembantu Pria Terpuji Serial Web melalui Generasi D’Bijis, sedangkan Alexandra Gottardo meraih Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Serial Web melalui Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap.

FFB juga memberikan penghargaan Film Impor Terpuji sebagai bagian dari rangkaian apresiasi dalam penyelenggaraan tahun ini.

Festival Film Bandung telah hadir sejak 1987 sebagai organisasi independen yang bergerak dalam pengamatan dan apresiasi terhadap film. Selama 39 tahun, FFB mempertahankan tradisi memberikan penghargaan Terpuji berdasarkan pengamatan independen terhadap karya-karya sinema yang beredar.

Penyelenggaraan FFB ke-39 menjadi momentum untuk merayakan perjalanan panjang perfilman Indonesia sekaligus memberikan penghargaan kepada para pelaku yang terus menghasilkan karya.

Di tengah perkembangan industri hiburan yang semakin luas, keberadaan ajang seperti FFB juga menjadi pengingat bahwa keberlangsungan perfilman tidak hanya ditentukan oleh banyaknya karya yang diproduksi, tetapi juga oleh kualitas dan konsistensi para pelaku di dalamnya.

Melalui tema “Sinema Rona Keluarga”, FFB ke-39 sekaligus menegaskan kembali posisi film sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan kebudayaan. Bandung pun kembali menjadi ruang pertemuan bagi para sineas dan pekerja industri kreatif untuk merayakan perjalanan sinema Indonesia.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.