Fashion Show Gebyar Kemerdekaan RI, Daur Ulang Sampah Jadi Bahan Dasar Busana
Dimana kondisi Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti sudah tidak bisa lagi menampung sampah dari warga masyarakat se-Bandung Raya.
"Akibatnya banyak sampah yang tidak dikelola dan dibuang dengan sembarangan, timbulan-timbulan sampah tidak hanya terjadi dipemukiman dan pinggiran jalan, bahkan dari selokan sampai sungai Citarum pun tidak luput dari pembuangan sampah," kata Rohmah.
Tentunya kita bertanya, kenapa Indonesia khususnya Bandung Raya berada pada status darurat sampah?
"Sebagai jawabannya mari kita introspeksi, ternyata sebagian besar masyarakat masih belum mengelola sampahnya dengan baik, masyarakat belum bisa melakukan pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce/mengurangi, Reuse/menggunakan kembali dan Recycle/mendaur ulang)," tuturnya.
Jika kondisi darurat sampah ini tidak segera ditangani, kata Neng Rohmah, maka dampak yang terjadi adalah selain lingkungan menjadi kumuh, banjir dan penyakitpun akan selalu muncul. Di Desa Neglasari, lanjutnya, semenjak TPST3R-nya dilengkapi dengan insenerator motah bantuan dari Kementerian PU Dirjen SDA BBWS Citarum, alhamdulillah sampah residu dari warga Desa Neglasari sudah tidak lagi dikirim ke TPPAS Sarimukti.
"Kita bersyukur dengan kehadiran insenerator motah tersebut, TPST3R Desa Neglasari dapat mengelola sampah dengan tuntas," ujarnya.
Ia mengatakan keberhasilan dalam pengelolaan sampah tersebut mengantarkan TPST3R Desa Neglasari mewakili Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat bersama sebelas TPST3R lainnya yang mewakili kabupaten dan provinsi se-Indonesia masuk pada buku Profil IBM Ciptakarya Indonesia tahun 2024. "Dalam momentum peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke-80 ini, kami mengajak untuk mengelola sampah dengan baik yang dimulai dari diri sendiri, rumah sendiri dan lingkungannya sendiri," katanya. @kos
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!