Edi Sudjono Apresiasi Pendukung "Gowes Sejarah" VISI.NEWS

ED
Selasa, 30 Juni 2026 | 15:13 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS | BANDUNG – Ketua Tim "Gowes Sejarah" VISI.NEWS, Edi Sudjono, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan "Gowes Sejarah – Napak Tilas Jejak Islam di Majapahit dan Peradaban Kuno di Jawa Timur". Menurutnya, keberhasilan kegiatan yang berlangsung selama sembilan hari tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai sponsor, tokoh, lembaga, serta masyarakat yang turut menyukseskan perjalanan edukatif tersebut.

Kegiatan yang digelar dalam rangka menyambut 1 Muharam 1448 Hijriah itu berlangsung pada 16–24 Juni 2026, dengan rute melintasi sejumlah kota bersejarah, yakni Solo, Ngawi, Madiun, Nganjuk, Kediri, Jombang, Mojokerto, hingga Sidoarjo.

Mengusung tema "Badannya Sehat, Karakter Bangsanya Kuat", kegiatan ini memadukan olahraga, edukasi sejarah, religi, budaya, dan silaturahmi sebagai satu kesatuan perjalanan yang bertujuan membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap akar peradaban Nusantara.

Menghidupkan Kembali Kesadaran Sejarah

Edi Sudjono, yang akrab disapa Edjon, mengatakan perjalanan tersebut bukan sekadar kegiatan bersepeda jarak jauh, tetapi merupakan upaya menelusuri kembali jejak panjang perjalanan peradaban bangsa Indonesia.

Menurutnya, masih banyak generasi muda yang belum memahami bahwa Nusantara telah memiliki kebudayaan tinggi jauh sebelum lahirnya negara modern.

"Kegiatan ini kami lakukan untuk menggugah kembali semangat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki peradaban yang sangat tinggi," ujar Edjon.

Ia mencontohkan keberadaan Manusia Trinil yang ditemukan di kawasan Bengawan Solo sebagai salah satu bukti penting sejarah panjang kehidupan manusia di Nusantara.

"Coba bayangkan, manusia Trinil yang hidup di sekitar Bengawan Solo sejuta tahun lalu sudah berbudaya. Dari jejak sejarah yang kami kunjungi, saya semakin bangga menjadi warga asli Indonesia yang memiliki peradaban sangat tinggi," katanya.

Bagi Edjon, memahami sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan membangun rasa percaya diri sebagai bangsa yang memiliki akar peradaban kuat.

Selama sembilan hari perjalanan, tim Gowes Sejarah VISI.NEWS mengunjungi puluhan situs sejarah, masjid kuno, candi, museum, makam tokoh, hingga pusat-pusat kebudayaan yang menjadi saksi perkembangan peradaban Nusantara.

Solo

Perjalanan dimulai dari Solo dengan mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah, antara lain:

  • Masjid Al-Wustho
  • Masjid Laweyan yang berkaitan dengan Ki Ageng Henis
  • Tugu Keris Solo
  • Keraton Pajang yang identik dengan Joko Tingkir
  • Pura Mangkunegaraan
  • Benteng Vastenburg

Kawasan ini menjadi titik awal penelusuran sejarah Islam di Jawa sekaligus perkembangan kerajaan-kerajaan Mataram.

Ngawi dan Madiun

Dari Solo, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Ngawi dan Madiun.

Lokasi yang dikunjungi meliputi:

  • Masjid Agung Ngawi
  • Masjid Kuno Taman
  • Alun-Alun Ngawi
  • Masjid Kuno Kuncen
  • Museum Trinil
  • Masjid Agung Baitul Hakim
  • Benteng Van den Bosch
  • Wisata Religi Kabah
  • Omah Joglo 1750
  • Alun-Alun Madiun

Museum Trinil menjadi salah satu lokasi yang paling menarik perhatian peserta karena menyimpan berbagai temuan fosil manusia purba yang menjadi bagian penting sejarah evolusi manusia di dunia.

Nganjuk

Di Kabupaten Nganjuk, tim mengunjungi:

  • Masjid Kanjeng Jimat
  • Watu Gandul
  • Alun-Alun Nganjuk
  • Air Terjun Sedudo
  • Taman Nyawiji
  • Candi Ngetos
  • Candi Lor

Selain menikmati keindahan alam Sedudo, peserta juga mempelajari peninggalan Kerajaan Majapahit dan masa-masa sebelumnya yang masih terawat hingga kini.

Kediri

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kediri dengan mengunjungi:

  • Masjid Agung Kediri
  • Candi Tegowangi
  • Museum Airlangga
  • Klenteng Tjoe Hwie Kiong
  • Monumen Simpang Lima Gumul
  • Soto Pojok 1926 sebagai salah satu kuliner legendaris Kediri
  • Situs Adan-adan
  • Kawasan Medang Kahuripan
  • Candi Surowono
  • Pondok Pesantren Lirboyo

Kunjungan ke Lirboyo menjadi salah satu agenda religi yang memperlihatkan kesinambungan tradisi pendidikan Islam di Jawa Timur hingga saat ini.

Jombang

Di Jombang, tim gowes melakukan ziarah ke Makam Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), melihat Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari dan Universitas Hasyim Asy'ari.

Ziarah tersebut menjadi momentum refleksi mengenai nilai-nilai toleransi, kebangsaan, dan pluralisme yang diwariskan Gus Dur kepada bangsa Indonesia.

Mojokerto

Sebagai pusat kejayaan Kerajaan Majapahit, Mojokerto menjadi lokasi dengan jumlah kunjungan sejarah terbanyak.

Tim mengunjungi:

  • Museum Majapahit Trowulan
  • Candi Brahu
  • Siti Inggil (Petilasan Raden Wijaya)
  • Candi Gentong
  • Pendopo Agung Trowulan
  • Wringin Lawang
  • Makam Troloyo
  • Maha Vihara Majapahit
  • Makam Putri Cempa
  • Petilasan Mahapatih Gajah Mada

Menurut Edjon, kawasan Trowulan menjadi bukti nyata bahwa Nusantara pernah memiliki salah satu pusat peradaban terbesar di Asia Tenggara.

Sidoarjo

Perjalanan ditutup di Kabupaten Sidoarjo dengan mengunjungi:

  • Masjid Kuno Baitusholihin
  • Makam Dewi Sekardadu
  • Alun-Alun Sidoarjo
  • Pantai Ketingan
  • Masjid Agung Sidoarjo

Rangkaian kunjungan tersebut menjadi penutup perjalanan napak tilas sejarah Islam dan perkembangan budaya di pesisir utara Jawa Timur.

Napak Tilas Jejak Islam dan Majapahit

Selama perjalanan, rombongan mengunjungi berbagai masjid kuno, situs peninggalan Islam, kawasan bekas Kerajaan Majapahit, hingga lokasi-lokasi yang menyimpan jejak perkembangan peradaban Jawa Timur.

Kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan peserta dengan berbagai lapisan sejarah, mulai dari peninggalan kerajaan Hindu-Buddha, proses masuknya Islam di Pulau Jawa, hingga warisan budaya yang masih bertahan sampai sekarang.

Menurut Edjon, banyak nilai luhur yang masih dapat dipelajari dari situs-situs tersebut, terutama mengenai toleransi, kebijaksanaan para leluhur, serta kemampuan masyarakat masa lampau membangun kehidupan yang harmonis dengan lingkungan.

Perjalanan Melintasi Delapan Kota

Perjalanan dimulai dari Kota Solo sebelum memasuki wilayah Jawa Timur.

Rute yang ditempuh meliputi:

  • Solo
  • Ngawi
  • Madiun
  • Nganjuk
  • Kediri
  • Jombang
  • Mojokerto
  • Sidoarjo

Di setiap kota, rombongan tidak hanya beristirahat, tetapi juga mengunjungi situs-situs bersejarah yang menjadi bagian penting perjalanan penyebaran Islam maupun perkembangan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

Selain bersepeda, peserta juga melakukan diskusi sejarah, dokumentasi perjalanan, serta menjalin silaturahmi dengan berbagai komunitas lokal.

Lebih dari Sekadar Bersepeda

VISI.NEWS merancang kegiatan ini sebagai perpaduan antara olahraga dan pendidikan.

Melalui konsep Olahraga, Edukasi, Religi, Budaya, dan Silaturahmi, penggemar gowes diajak memahami bahwa kesehatan fisik harus berjalan seiring dengan penguatan karakter bangsa.

Momentum Tahun Baru Islam dipilih karena dinilai menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat nilai spiritual dan kebangsaan.

Menurut panitia, perjalanan sejarah seperti ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran langsung yang jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar membaca buku.

Menginap di Enam Hotel

Selama menempuh perjalanan lintas kota, tim "Gowes Sejarah" bermalam di enam hotel berbintang tiga dan empat.

Hotel-hotel tersebut meliputi:

  • Loji Hotel – Solo
  • Hotel Kharisma – Madiun
  • Grand Surya Hotel – Kediri
  • Azana Hotel – Jombang
  • Aston Mojokerto Hotel – Mojokerto
  • Luminor Hotel – Sidoarjo

Menurut Edjon, setiap hotel memberikan sambutan yang hangat kepada rombongan.

Tidak hanya petugas hotel, sejumlah tamu hotel juga menunjukkan rasa penasaran terhadap perjalanan yang dilakukan tim. Banyak di antara mereka yang mengajak berbincang mengenai rute yang telah ditempuh maupun tujuan kegiatan napak tilas sejarah tersebut.

"Kami merasa sangat dihargai. Mulai dari pegawai hotel, manajer hingga para tamu banyak yang menyapa, bertanya mengenai perjalanan kami, bahkan memberikan semangat," katanya.

Selain pelayanan yang ramah, tim juga mengaku puas terhadap fasilitas dan jamuan yang diberikan selama menginap di setiap hotel.

Didukung Berbagai Tokoh dan Lembaga

Edjon menegaskan bahwa terselenggaranya kegiatan ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak.

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada para sponsor dan pendukung, antara lain:

  • Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung.
  • PT Pupuk Kujang.
  • Lakpesdam PCNU Kabupaten Bandung.
  • Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bandung Teguh Purwayadi.
  • Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat Kunrat Kasmiri.
  • Inspektur Kabupaten Bandung Erwan Kusuma Hermawan, yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Pendapatan Daerah.
  • Direktur Utama PT BPR Kerta Raharja, H. Aep Hendar Cahyadi.
  • Direktur Utama Perumda Tirta Raharja, H. A. Teddy Setiabudi.

Menurut Edjon, dukungan tersebut menunjukkan masih banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian sejarah dan budaya bangsa.

"Atas nama seluruh tim, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor, sahabat, dan para pendukung yang telah memberikan kepercayaan kepada kami. Tanpa dukungan mereka, perjalanan ini tentu tidak akan berjalan dengan baik," ujarnya.

Sejarah sebagai Pengingat Bangsa

Bagi Edjon, setiap situs yang dikunjungi menyimpan pelajaran penting bagi kehidupan bangsa saat ini.

Di balik bangunan kuno, masjid tua, dan kawasan bersejarah terdapat nilai perjuangan, toleransi, gotong royong, hingga kebijaksanaan para pendahulu dalam membangun peradaban.

Karena itu, ia berharap kegiatan "Gowes Sejarah" tidak berhenti sebagai agenda olahraga tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan edukasi yang mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap sejarah bangsa.

Menurutnya, menjaga sejarah bukan hanya melestarikan bangunan atau benda cagar budaya, tetapi juga merawat nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

"Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap perjalanan, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini. Melalui kegiatan ini kami ingin mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal, menghargai, dan belajar dari sejarahnya," kata Edjon.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.