Dunia Seni Berduka, Tokoh Pelukis Jelekong H. Asep Sancang Wafat
VISI.NEWS | BANDUNG - Innalillahi wainnailaihi rojiun. Kampung Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, berduka. H. Asep Sancang, tokoh pelukis Jelekong yang dikenal sebagai pelukis pituin dan pelestari seni lukis tradisional, meninggal dunia pada Kamis (1/1/2026) petang.
Tatang Saepudin, teman dekat almarhum, menceritakan bahwa Asep Djudju Subarnas yang lebih dikenal dengan panggilan H. Asep Sancang, wafat saat dalam perjalanan pulang ke Bandung setelah liburan bersama warga Jelekong ke Pangandaran. “Beliau ikut turing naik motor, padahal usianya sudah tidak muda. Saya sempat menyarankan naik mobil, tapi almarhum lebih senang naik motor. Ternyata, itu menjadi perjalanan terakhirnya,” ungkap Tatang di rumah duka, Jumat (2/1/2026).
Almarhum lahir pada 18 April 1960, putra pertama dari pasangan H. Sulaeman dan H. Wiwi. Sejak muda, ia menekuni dunia seni lukis dan menjadi panutan bagi banyak seniman muda Jelekong. Murid-muridnya mengenang almarhum sebagai guru yang sabar, tegas, namun selalu penuh perhatian. "Almarhum menghabiskan seluruh hidupnya dalam dunia lukis. Almarhum pula yang tak pernah lelah ikut mengangkat hasil karya anak-anak di sini di kancah pasar lukis nasional, bahkan internasional, karena produk lukisan Jelekong banyak juga yang sampai ke luar negeri," imbuh H. Idas Koswara, salah satu sahabat almarhum.
Kepergian H. Asep Sancang terjadi setelah kegiatan tahun baru bersama warga Pangandaran. Di Pangandaran, almarhum banyak bercanda dan tidak ada tanda-tanda sakit. Ia bisa tetap mengikuti seluruh rangkaian acara sebelum akhirnya kondisinya menurun dan harus dialihkan ke mobil. Rombongan sempat beristirahat di Tasikmalaya, di SPBU yang ada di Singaparna, Tasikmalaya, namun takdir berkata lain.
Salah satu murid almarhum, Rina (27), mengungkapkan kesedihannya. “Pak Asep selalu mengajarkan kami, lukisan bukan hanya tentang warna dan kuas, tapi tentang hati dan jiwa. Kehilangan beliau adalah kehilangan besar bagi kami semua,” kata Rina sendu.
Almarhum meninggalkan seorang istri, Hj. Cholisoh, dan empat anak. Anak keduanya, Chandra Direksa (39), mewakili keluarga menyampaikan pesan, “Kami memohon maaf apabila semasa hidup almarhum ada kesalahan, disengaja maupun tidak. Terima kasih atas doa dan dukungan semua pihak dalam pemulasaraan jenazah, hingga dimakamkannya,” ungkap Chandra di sela-sela padatnya pelayat di rumah duka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!