Dua Tahun Kepemimpinan Gus Muhdlor Masih Banyak PR Dan Masalah Sidoarjo Belum Terselesaikan
Ia juga mengungkapkan bahwa di banyak media sosial (medsos) muncul meme-meme yang mem-bully akibat semakin menurunnya prestasi Kabupaten Sidoarjo dibandingkan dengan kepemimpinan bupati sebelumnya.
“Bahkan waktu Gus Muhdlor kampanye saat pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo 2020 lalu, memunculkan istilah yang viral, ndelok ngidul isin, ndelok ngulon yo isin, opo maneh ndelok ngalor,” ucapnya.
Namun menjadi bupati di Sidoarjo tidaklah mudah, karena permasalahannya terlalu komplek dan banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dibenahi, sementara harapan masyarakat terlanjur tinggi dan berharap kepemimpinan Bupati Ahmad Muhdlor bisa memberikan dampak positif dalam waktu singkat.
Bupati Sidoarjo sekarang ini hanya punya waktu 4 tahun saja pasca munculnya regulasi yang mengatur Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di tahun 2024 nanti.
“Masih harus pula melakukan konsolidasi internal. Harus pula menyamakan visi dengan parpol (partai politik, red) baik pendukung maupun yang bukan, paling berat adalah mengendalikan dan menggerakan birokrasi penopangnya. Ini saja sudah memakan waktu dan energi tersendiri,” terangnya.
Dijelaskan oleh Nanang Haromain bahwa mengendalikan birokrasi bukan soal gampang, mereka punya berbagai pengalaman dipimpin kepala daerah dengan berbagai latar belakang. Karena itu, sering punya kompetensi melebihi yang memimpinnya.
Banyak kepala daerah yang programnya tidak bisa sat-set jalan, karena tak segera bisa mengendalikan birokratnya sehingga eksekusi keputusan politiknya sangat tergantung pada birokrat yang menjalankan.
“Dengan situasi dan kondisi (Kabupaten, red) Sidoarjo seperti itu, Gus Muhdlor langsung tancap gas pasang perseneling gigi lima. Banyak program infrastruktur yang sudah bisa dijalankan. Yang tidak jelas nasibnya pada periode kepemimpinan sebelumnya,” jelasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!