Drone Ungkap Pembukaan Lahan di Lereng Tangkuban Parahu
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 28 Maret 2025 | 18:12 WIB
VISI.NEWS | KAB. BANDUNG BARAT - Proyek di kawasan lereng Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi perhatian publik setelah foto-fotonya tersebar luas di media sosial. Foto-foto tersebut menunjukkan adanya pembukaan lahan berskala besar yang diduga akan digunakan sebagai objek wisata, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pecinta lingkungan.
Proyek ini diketahui berlokasi di Kecamatan Parongpong, KBB. Camat setempat, Herman Permadi, membenarkan bahwa aktivitas tersebut berada di wilayahnya.
"Betul, aktivitas proyek itu masuk wilayah Parongpong," kata Herman, Kamis (27/3/2025).
Namun, Herman tidak mengetahui tujuan pasti dari proyek tersebut karena sistem perizinan OSS (Online Single Submission) membuat desa maupun kecamatan tidak lagi dilibatkan dalam proses perizinan.
"Saya tidak tahu itu untuk apa karena dengan sistem perizinan OSS, kewilayahan baik desa atau kecamatan tidak lagi dilibatkan," sambungnya.
Proyek ini pertama kali diketahui dari unggahan Ketua Asosiasi Profesi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI), Deni Sugandi, di akun Instagram pribadinya. Saat melakukan pemanduan wisata Geourban Gunung Tangkuban Parahu bersama komunitasnya pada Minggu (23/3/2025), Deni menerbangkan drone untuk mengamati bentang alam di sekitar perkebunan teh.
"Kami sedang melaksanakan kegiatan pemanduan wisata Geourban Gunung Tangkuban Parahu lewat Sukawana trek 11 menuju Puncak Upas. Di perjalanan, saya menerbangkan drone untuk melihat bentang alam di sekitar perkebunan teh. Tiba-tiba pesawat saya menangkap dari kejauhan aktivitas pembukaan lahan dengan skala besar di sana. Karena pesawat tidak sampai ke lokasi, saya pakai zoom untuk memotretnya," ungkap Deni.
Deni sangat menyayangkan proyek ini karena berada di dalam Kawasan Bandung Utara (KBU), yang memiliki fungsi konservasi sebagai daerah tangkapan air di Cekungan Bandung. Menurutnya, proyek ini berpotensi merusak bentang alam serta mengganggu keseimbangan ekosistem.
Deni juga menerima laporan dari masyarakat bahwa akses ke lokasi semakin sulit karena area tersebut telah dipagari dan dilarang untuk dimasuki oleh pengembang. Padahal, kawasan ini sebelumnya merupakan salah satu jalur pendakian menuju Gunung Tangkuban Parahu.
Ia mengatakan sangat disayangkan jika akses pendakian ini tertutup dan lingkungan di sana rusak karena proyek ini. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!