LMKN dan USEA Kerja Sama Bangun Ekosistem Lisensi BGM Terintegrasi di Indonesia 21 Jul 2026 Duka Sepak Bola Inggris, Legenda Liverpool Kevin Keegan Meninggal Dunia 21 Jul 2026 Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS 21 Jul 2026 Jadwal Timnas Voli Indonesia vs Kamboja di SEA V Cup 2026 21 Jul 2026 Enam Maskapai Ajukan Operasi di Bandara Husein Sastranegara 21 Jul 2026 Optimistis Distribusi BBM Segera Normal, Eddy Soeparno: Antrean Diperkirakan Berkurang 21 Jul 2026 Kasus Penganiayaan YTR, Polda Jabar Limpahkan Berkas ke Kejaksaan 21 Jul 2026 FIFA Kaji Usulan Piala Dunia 2030 Diikuti 64 Tim 21 Jul 2026 18 Korban KM Nurul Salsa Masih Hilang, Pencarian Diperluas 21 Jul 2026 Polda Jabar Ungkap 24 Kasus Begal Sepanjang Juli 2026 21 Jul 2026 LMKN dan USEA Kerja Sama Bangun Ekosistem Lisensi BGM Terintegrasi di Indonesia 21 Jul 2026 Duka Sepak Bola Inggris, Legenda Liverpool Kevin Keegan Meninggal Dunia 21 Jul 2026 Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS 21 Jul 2026 Jadwal Timnas Voli Indonesia vs Kamboja di SEA V Cup 2026 21 Jul 2026 Enam Maskapai Ajukan Operasi di Bandara Husein Sastranegara 21 Jul 2026 Optimistis Distribusi BBM Segera Normal, Eddy Soeparno: Antrean Diperkirakan Berkurang 21 Jul 2026 Kasus Penganiayaan YTR, Polda Jabar Limpahkan Berkas ke Kejaksaan 21 Jul 2026 FIFA Kaji Usulan Piala Dunia 2030 Diikuti 64 Tim 21 Jul 2026 18 Korban KM Nurul Salsa Masih Hilang, Pencarian Diperluas 21 Jul 2026 Polda Jabar Ungkap 24 Kasus Begal Sepanjang Juli 2026 21 Jul 2026

Drama 120 Menit! Spanyol Rebut Mahkota Dunia

ED
PN
Senin, 20 Juli 2026 | 05:36 WIB
Bagikan
Drama 120 Menit! Spanyol Rebut Mahkota Dunia

Tendangan Lamine Yamal yang nyaris membuahkan gol. /tangkapan layar

VISI.NEWS – Timnas Spanyol kembali menjadi raja sepak bola dunia setelah menaklukkan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada partai final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Gol semata wayang Ferran Torres pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu memastikan La Furia Roja mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah penantian selama 16 tahun.

Kemenangan Spanyol lahir melalui pertandingan yang berlangsung sangat ketat, keras, dan penuh drama. Argentina harus mengakhiri laga dengan 10 pemain setelah Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua menjelang berakhirnya waktu normal. Keunggulan jumlah pemain itu akhirnya mampu dimanfaatkan Spanyol untuk mencetak gol penentu kemenangan.

Pelatih Argentina Lionel Scaloni melakukan tiga perubahan dalam susunan pemain dibandingkan laga semifinal melawan Inggris. Rodrigo De Paul, Nico González, dan Nahuel Molina dipercaya tampil sejak menit awal menggantikan Leandro Paredes, Giuliano Simeone, dan Gonzalo Montiel. Sementara itu, pelatih Spanyol Luis de la Fuente mempertahankan sebelas pemain yang sebelumnya sukses menyingkirkan Prancis.

Meski Argentina membuka pertandingan dengan pendekatan menyerang, Spanyol justru tampil lebih berbahaya sejak menit-menit awal. Dani Olmo mengirimkan umpan matang kepada Lamine Yamal yang langsung melepaskan tembakan setelah memanfaatkan bola liar di kotak penalti. Namun, kiper Emiliano Martínez tampil sigap untuk menggagalkan peluang tersebut.

Spanyol kemudian mengambil alih kendali permainan melalui dominasi penguasaan bola. Argentina lebih banyak mengandalkan umpan-umpan panjang untuk mencari Julián Álvarez dan Lionel Messi di lini depan. Salah satu peluang muncul ketika Unai Simón keluar terlalu jauh dari sarangnya sehingga bola jatuh ke kaki Álvarez. Namun, sentuhan pertama penyerang Manchester City itu kurang sempurna sehingga kesempatan emas terbuang sia-sia.

Pertandingan semakin keras setelah wasit Slavko Vincic memilih tidak mengeluarkan kartu kuning kepada Alexis Mac Allister yang melakukan tekel keras terhadap Dani Olmo. Keputusan tersebut membuat tensi pertandingan meningkat. Kedua tim beberapa kali terlibat duel fisik dan pelanggaran demi menghentikan serangan lawan.

Babak pertama berlangsung minim peluang. Spanyol memang lebih dominan, tetapi kesulitan membongkar rapatnya pertahanan Argentina. Selain satu percobaan dari Mikel Oyarzabal, praktis tidak banyak ancaman berarti yang mengarah ke gawang Emiliano Martínez.

Argentina mendapat pukulan ketika bek Lisandro Martínez mengalami cedera. Setelah sebelumnya menerima kartu kuning akibat melanggar Oyarzabal, bek tengah tersebut memberi isyarat tidak mampu melanjutkan pertandingan dan digantikan Nicolás Otamendi sebelum turun minum.

Menurut catatan Opta, babak pertama final ini mencatat rekor yang tidak diinginkan. Selama 45 menit pertama hanya tercipta tiga tembakan tepat sasaran, menjadi jumlah paling sedikit dalam babak pertama final Piala Dunia sejak pencatatan statistik dimulai pada 1966. Lebih buruk lagi, Argentina sama sekali tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang babak pertama.

Memasuki babak kedua, Spanyol langsung mengancam melalui Álex Baena yang menerima umpan terobosan. Namun, penyelesaian akhirnya masih mampu digagalkan Emiliano Martínez. Di kubu Argentina, Leandro Paredes yang masuk sebagai pemain pengganti langsung tampil agresif dengan sejumlah pelanggaran keras hingga akhirnya menerima kartu kuning.

Pergantian pemain yang dilakukan Luis de la Fuente mulai mengubah jalannya pertandingan. Masuknya Ferran Torres dan Nico Williams membuat serangan Spanyol semakin hidup. Torres beberapa kali memperoleh peluang, termasuk melalui sundulan dari jarak dekat, tetapi Emiliano Martínez terus tampil luar biasa dengan serangkaian penyelamatan penting.

Lionel Messi yang sepanjang pertandingan nyaris tidak terlihat baru mendapat peluang menjelang akhir waktu normal. Kapten Argentina itu berhasil menemukan ruang tembak di depan kotak penalti, tetapi usahanya masih mampu diblok pemain belakang Spanyol. Di sisi lain, Nico Williams juga nyaris membawa Spanyol unggul melalui serangan balik cepat, namun kembali dimentahkan Martínez.

Drama terjadi pada menit-menit akhir waktu normal. Enzo Fernández melakukan pelanggaran keras terhadap Pau Cubarsí dan menerima kartu kuning kedua yang berujung kartu merah. Argentina pun harus melanjutkan pertandingan dengan hanya 10 pemain.

Meski unggul jumlah pemain, Spanyol tetap gagal mencetak gol hingga 90 menit berakhir. Lamine Yamal sempat melepaskan tendangan melengkung ke sudut jauh, tetapi Emiliano Martínez kembali melakukan penyelamatan gemilang yang memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu.

Di babak tambahan, Spanyol terus menekan pertahanan Argentina. Nico Williams sempat gagal menyambut umpan silang hanya karena selisih beberapa sentimeter. Tak lama kemudian sempat tercipta gol dari situasi bola pantul, tetapi wasit Slavko Vincic menghentikan permainan karena menganggap terjadi pelanggaran terhadap Nicolás Otamendi.

Argentina bertahan habis-habisan demi membawa pertandingan ke adu penalti. Para pemain Albiceleste beberapa kali melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil untuk memutus ritme permainan Spanyol. Nicolás Tagliafico bahkan terus membayangi Lamine Yamal sehingga memicu ketegangan di lapangan.

Spanyol kembali memperoleh peluang emas ketika Mikel Merino berdiri bebas menyambut umpan silang. Namun, sundulannya justru melenceng dari sasaran.

Gol yang ditunggu akhirnya lahir pada menit ke-106. Nico Williams mengirim sundulan yang mengarah kepada Ferran Torres. Penyerang Barcelona itu berhasil berlari lebih cepat daripada lini belakang Argentina sebelum menaklukkan Emiliano Martínez. Gol tersebut menjadi satu-satunya yang tercipta sepanjang pertandingan sekaligus mengubah skor menjadi 1-0 untuk Spanyol.

Torres sebenarnya sempat kembali membobol gawang Argentina beberapa menit kemudian. Namun, gol tersebut dianulir karena posisi offside yang sangat tipis setelah pemeriksaan asisten wasit.

Pada sisa pertandingan, Argentina mencoba bangkit meski bermain dengan 10 orang. Peluang terbaik hadir melalui Giuliano Simeone yang mendapat ruang di dalam kotak penalti, tetapi gagal memaksimalkan kesempatan sehingga harapan Albiceleste memaksakan adu penalti sirna.

Data Opta kembali mencatat rekor negatif bagi Argentina. Hingga 90 menit pertandingan selesai, tim asuhan Lionel Scaloni menjadi tim pertama dalam sejarah final Piala Dunia yang tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. Baru pada menit ke-115, sebuah umpan silang Lionel Messi yang mengarah ke gawang akhirnya dihitung sebagai tembakan tepat sasaran pertama Argentina dalam laga tersebut.

Peluit panjang akhirnya memastikan kemenangan Spanyol. La Furia Roja meraih gelar juara dunia kedua setelah sukses pertama pada 2010. Sebaliknya, Argentina gagal mempertahankan mahkota yang mereka raih pada edisi sebelumnya, sekaligus harus menerima kenyataan pahit setelah tampil minim ancaman sepanjang final dan kehilangan Enzo Fernández akibat kartu merah pada penghujung waktu normal.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.