Doa Menunjukkan Posisi Hamba Dihadapan Allah SWT
VISI.NEWS | BANDUNG - Sering kali manusia lebih fokus pada hasil doa daripada prosesnya. Ketika harapan belum juga terwujud, muncul rasa kecewa, gelisah, bahkan protes dalam hati. Padahal dalam ajaran Islam, doa bukan semata-mata tentang terkabul atau tidaknya permintaan, melainkan tentang posisi seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa doa adalah manifestasi penghambaan dan rasa butuh seorang hamba kepada Tuhannya. Ia menulis:
ان في الدعاء تحقيق العبودية والافتقار، وهو مظهر حاجة العبد الى ربه في كل حال
Inna fid-du‘ā’i taḥqīqal-‘ubūdiyyah wal-iftiqār, wa huwa maẓharu ḥājati al-‘abdi ilā rabbihī fī kulli ḥāl.
Artinya: “Sesungguhnya dalam doa terdapat perwujudan penghambaan dan kefakiran. Ia adalah manifestasi kebutuhan hamba kepada Tuhannya dalam setiap keadaan.”
Makna ini menegaskan bahwa doa bukan alat transaksi antara manusia dan Tuhan. Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan dengan kalimat singkat namun mendalam:
لا تكن مطلبك سببا للاعطاء منه
Lā takun maṭlabuka sababan lil-i‘ṭā’i minhu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!