Doa Farhan untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

ED
PN
Sabtu, 12 September 2026 | 05:27 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS — Empat hari berlalu sejak lima jurnalis dan tiga awak kapal hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Di tengah operasi pencarian yang terus diperluas, harapan agar kedelapan orang tersebut ditemukan dalam keadaan selamat terus disuarakan dari berbagai pihak.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi keselamatan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang dilaporkan hilang ketika menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Farhan menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa para pekerja media tersebut. Menurutnya, hilangnya delapan orang itu tidak hanya menjadi duka bagi keluarga dan rekan kerja, tetapi juga menyentuh kalangan masyarakat yang selama ini bergantung pada kerja jurnalistik untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai peristiwa.

“Ada beberapa sahabat kita, ada lima orang jurnalis dan tiga orang kru dalam peliputan Anak Krakatau itu masih dalam posisi hilang dan hari ini memasuki hari keempat. Tentu kami sangat berduka,” ujar Farhan di Bandung, Jumat (11/9/2026).

Lima jurnalis tersebut diketahui tengah menjalankan tugas untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Mereka adalah pewarta foto Antara Muhammad Bagus Khoirunas, Arie Basuki dari merdeka.com, fotografer lepas Donal Husni, Yudhistira dari iNews, serta Daus dari Anadolu.

Mereka melakukan perjalanan menuju kawasan perairan Selat Sunda bersama tiga awak kapal. Kontak dengan rombongan tersebut dilaporkan terputus pada Senin, 7 September 2026.

Sejak saat itu, pencarian dilakukan untuk mengetahui keberadaan mereka. Memasuki hari keempat operasi, keberadaan kedelapan orang tersebut masih belum diketahui.

Bagi Farhan, tugas yang dijalankan para jurnalis tersebut merupakan bagian penting dari kerja penyampaian informasi kepada publik. Aktivitas peliputan di kawasan gunung api dan perairan yang memiliki risiko tentu membutuhkan keberanian dan tanggung jawab yang besar.

Karena itu, ia mengajak warga Bandung dan masyarakat luas untuk tidak berhenti memberikan dukungan moral kepada para korban, keluarga mereka, serta tim pencarian yang masih bekerja di lapangan.

“Mari kita berdoa agar tiga orang kru dan lima orang jurnalis ini bisa segera ditemukan, insyaallah dalam keadaan selamat. Kita berdoa bersama agar keluarga yang ditinggalkan betul-betul teguh, kuat dan takwa,” kata Farhan.

Doa tersebut disampaikan ketika upaya pencarian memasuki fase penting. Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran di kawasan perairan Selat Sunda dengan mengerahkan sejumlah kapal dan personel. Perluasan area pencarian dilakukan untuk meningkatkan peluang menemukan tanda-tanda keberadaan para korban.

Pada hari keempat pencarian, Basarnas mengerahkan 13 kapal yang dibagi ke dalam empat sektor pencarian. Strategi tersebut dilakukan untuk memperluas cakupan penyisiran di wilayah perairan yang menjadi lokasi terakhir keberadaan rombongan.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan armada yang dikerahkan dalam operasi tersebut terdiri atas KRI Kerambit 627, KN SAR Tetuka, KP Hayabusa, KN SAR Basudewa, KRI Leuser 924, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RBB P Peucang, RIB Lampung, KAL Pahowang, TB Gunung Santri, dan KRI Lepu.

Pengerahan armada dalam jumlah besar mencerminkan upaya tim SAR untuk menjangkau area pencarian yang lebih luas. Pembagian menjadi empat sektor memungkinkan penyisiran dilakukan secara lebih terarah dengan melibatkan berbagai unsur yang berada dalam operasi gabungan.

Farhan memberikan apresiasi kepada Basarnas dan seluruh unsur SAR gabungan yang terus berupaya mencari keberadaan para jurnalis dan awak kapal tersebut.

Menurutnya, operasi pencarian yang melibatkan berbagai unsur menunjukkan adanya sinergi antara lembaga dan aparat dalam menghadapi situasi darurat. Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta unsur pendukung lainnya terus terlibat dalam upaya pencarian.

Di balik operasi tersebut, terdapat penantian panjang dari keluarga delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Bagi keluarga, setiap perkembangan dari lapangan menjadi sesuatu yang sangat berarti. Harapan untuk mendapatkan kabar baik tetap menjadi kekuatan di tengah ketidakpastian.

Hilangnya lima jurnalis juga menjadi perhatian besar bagi komunitas pers. Para jurnalis tersebut berada di kawasan perairan Selat Sunda dalam rangka menjalankan tugas profesional untuk mendokumentasikan dan menyampaikan informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat.

Pekerjaan jurnalistik kerap membawa wartawan ke berbagai lokasi dengan kondisi yang tidak selalu mudah. Peliputan bencana alam, aktivitas gunung api, kecelakaan, konflik, maupun kondisi darurat lainnya menempatkan pekerja media pada lingkungan yang memiliki risiko tersendiri.

Dalam konteks peliputan Gunung Anak Krakatau, tantangan tidak hanya berasal dari aktivitas vulkanik, tetapi juga kondisi laut dan cuaca di sekitar kawasan Selat Sunda. Karena itu, operasi pencarian membutuhkan koordinasi, perhitungan keselamatan, serta pengerahan sumber daya yang memadai.

Namun, bagi keluarga dan rekan-rekan para korban, perhatian utama saat ini hanya satu: menemukan kedelapan orang tersebut.

Farhan pun berharap pencarian yang dilakukan secara berkelanjutan dapat segera menghasilkan titik terang. Ia ingin seluruh jurnalis dan awak kapal yang hilang dapat ditemukan dan kembali ke tengah keluarga.

Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan masyarakat selama operasi pencarian berlangsung. Dukungan tersebut dapat diberikan melalui doa dan kepedulian terhadap keluarga korban serta penghargaan kepada para petugas yang masih berjibaku melakukan pencarian.

“Semoga seluruh korban segera ditemukan dan kembali berkumpul dengan keluarga,” menjadi harapan yang terus mengiringi pencarian tersebut.

Memasuki hari keempat, operasi SAR di Selat Sunda bukan sekadar pencarian terhadap delapan orang yang hilang. Di dalamnya terdapat harapan keluarga, kecemasan rekan kerja, kepedulian masyarakat, dan perjuangan tim penyelamat yang terus menyisir perairan.

Di tengah luasnya laut Selat Sunda, doa menjadi salah satu bentuk dukungan yang dapat terus diberikan masyarakat. Sementara di lapangan, tim SAR masih bekerja mencari setiap kemungkinan dan tanda yang dapat membawa mereka kepada lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.