Dinamika Pilkada 2024

ED
Selasa, 8 Maret 2022 | 03:06 WIB
Bagikan
Dinamika Pilkada 2024

Oleh Djamu Kertabudi

DALAM tulisan sebelumnya, saya mengajak semua pemangku kepentingan di KBB untuk mulai saat ini disamping waktunya mengelus-ngelus bakal calon Bupati & Wakil Bupati Bandung Barat secara intern, melainkan juga bagi figur yang berniat mengikuti kontestasi pilkada 2024 harus mulai mensosialisasi dirinya kepada masyarakat luas.

Waktu dua tahun (2022-2024) adalah momen strategis dalam proses eksplorasi (penjajagan) politik untuk membuka peluang dan kemungkinan dalam menciptakan popularitas dan elektabilitas (ketertarikan seseorang dalam menentukan pilihannya). Bagi figur yang sudah matang di wilayah politik, bahwa hasil evaluasi dari eksplorasi politik ini yang dilakukan pada tahun 2023 nanti sebagai bahan untuk menentukan apakah proses pencalonan sebagai Bupati terus berlanjut, atau cukup sebagai calon Wakil Bupati, bahkan mengurungkan niatnya dalam proses pencalonan baik sebagai Bupati maupun Wakil Bupati.

Satu hal yang patut diungkapkan, bahwa politik bukan hanya berbicara sebuah peluang, kalau ini terjadi akan terjebak dalam sebuah penomena ilusi optik sebagai fatamorgana politik yang mengungkung dirinya dalam lingkaran "false hopes" (harapan kosong). Politik adalah integritas kebangsaan yang harus diperjuangan dengan berdarah-darah melalui karakter dan potensi yang dimilikinya berkaitan dengan modal sosial, modal karya, dan modal finansial (Soeharsono Sagir).

Berdasarkan hasil penelitian yang dituangkan dalam bentuk disertasi seorang kandidat doktor mengetengahkan kesimpulan bahwa peluang mendasar untuk memenangkan dalam kontestasi politik, yang utama adalah modal sosial, sejauh mana seorang kandidat sejak lama dikenal dan mengenal masyarakatnya, artinya tidak muncul ujug-ujug. Keduanya, modal karya, artinya telah berbuat sesuatu bagi masyarakatnya. Sehingga modal finansial diposisikan sebagai suplemen, dan bukan yang utama.

Berdasarkan fakta sosok kandidat Pilkada menghabiskan puluhan milyar untuk memenangkan sebuah pertarungan. Hal itu terjadi, jangan sekali-kali menarik kesimpulan subyektif, seolah masyarakat tengah pragmatis & transaksional, melainkan kandidat itulah yang melakukan langkah "cepat saji" dalam mendongkrak elektabilitasnya, mengingat unsur lainnya, yaitu modal sosial, dan modal karya relatif minim.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.