Dinamika Fundamental Bitcoin dan Ethereum pada Pekan Keempat November Cukup Sighnifikan
VISI.NEWS | BANDUNG - Bitcoin memasuki pekan keempat November 2025 dengan dinamika fundamental yang cukup signifikan. MicroStrategy kembali menambah portofolio Bitcoin mereka dengan pembelian 8.178 BTC senilai sekitar US$ 835,6 juta. Total kepemilikan perusahaan kini mencapai 649.870 BTC. Meski saham MSTR mengalami penurunan tajam, Michael Saylor dan tim tetap konsisten menunjukkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin.
Di sisi lain, analis sekaligus CIO Ledn, Jon Glover, memberikan pandangan lebih berhati-hati. Ia memperingatkan bahwa bull run Bitcoin kemungkinan besar sudah berakhir. Menurut proyeksinya, Bitcoin berpotensi turun ke level US$ 70.000 atau bahkan lebih rendah. Glover menilai tekanan pasar bisa berlanjut hingga akhir 2026, menandai periode bearish yang cukup berkepanjangan.
Tekanan sentimen bertambah setelah CEO VanEck, Jan van Eck, menyampaikan bahwa institusinya dapat keluar dari eksposur Bitcoin jika “tesis Bitcoin” dianggap rusak. Risiko utamanya berasal dari perkembangan komputasi kuantum yang berpotensi mengancam sistem kriptografi Bitcoin. Kekhawatiran ini menambah lapisan ketidakpastian bagi investor jangka panjang.
Secara teknikal pada time frame 4 jam, dikutip dari Indodax, Selasa (25/11/2025), Bitcoin berada dalam kondisi Inside Bar bearish yang terbentuk pada time frame mingguan dan sudah mencapai area support kuat. Kondisi ini menunjukkan pasar sedang jenuh dan potensi pembalikan harga mulai terbuka, namun tetap membutuhkan konfirmasi tambahan. Trader disarankan memperhatikan daily time frame untuk mencari sinyal reversal yang lebih valid.
Peluang pembelian dapat muncul apabila harga terkoreksi menuju area support berikutnya di sekitar Rp1.248.452.000. Level ini menjadi titik penting di mana candlestick reversal diharapkan muncul sebagai tanda awal perubahan arah. Jika harga mampu menahan tekanan jual di area ini, skenario pemantulan dapat kembali terbentuk.
Apabila posisi beli sudah masuk pada area support tersebut, target kenaikan berada pada level Rp1.298.390.080. Area ini menjadi resistance terdekat yang juga berfungsi sebagai zona lower high atau higher high potensial, sehingga cocok dijadikan area take profit bagi trader jangka pendek hingga menengah.
Sementara itu, dari sisi Ethereum, kondisi fundamental juga tidak kalah menarik. Vitalik Buterin memperingatkan bahwa semakin banyak institusi besar—termasuk BlackRock—yang mengakumulasi ETH. Menurutnya, dominasi institusional dapat mengancam nilai dasar desentralisasi Ethereum, sehingga ia mendorong agar ekosistem tetap inklusif, bebas izin, dan tahan sensor.
Pergerakan aliran dana institusional memperlihatkan adanya rotasi modal yang lebih agresif ke altcoin seperti Solana (SOL) dan XRP. Berdasarkan data SoSoValue, ETF SOL dan XRP mencatat aliran masuk hampir US$ 900 juta secara gabungan, kontras dengan ETF Bitcoin dan Ether yang justru mengalami arus keluar. Ini menunjukkan adanya perubahan selera risiko di pasar yang tengah terkoreksi.
Tekanan tambahan datang dari sektor DeFi, di mana sekitar US$ 60 miliar aset menghilang sepanjang November 2025. Penurunan tajam ini memperlihatkan rapuhnya protokol pinjaman dan likuiditas di tengah volatilitas ekstrem. Ethereum yang menjadi fondasi sebagian besar protokol DeFi turut terdampak secara sentimen, memberikan tekanan tambahan pada aktivitas jaringan dan pergerakan harga ETH.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!