Dihadiri Ketum PBNU, Gerakan Nasional 'Pesantrenku Aman' Digelar di Bandung
"Pesantren-pesantren ini kita dorong untuk bisa memenuhi standar yang sudah diformulasikan," katanya.
Gus Yahya juga menyinggung kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang pernah terjadi di lingkungan pesantren. Menurut dia, hasil kajian menunjukkan salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pemenuhan standar tata ruang dan infrastruktur pesantren.
"Sehingga membuat lebih mudah terjadi kasus seperti itu. Atau standar pengasuhan ke pengasuhannya atau tata cara pengasuhan dan saterusnya. Itu belum seusai dengan yang ditentukan. Makanya kita pikirkan tentang standar ini. Supaya hal-hal yang tidak diinginkan bisa dicegah," ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama membantu pesantren agar berkembang dan memberikan lingkungan pendidikan yang lebih baik bagi para santri.
"Anak-anak kita mendapatkan pendidikan lebih baik dan masa depan yang lebih baik," harapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga mengungkapkan persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
"Mohon doa restu," ujarnya.
Pada kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) dan PBNU.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!