Diaba Konate: Perjuangan Atlet Basket Berhijab di Tengah Larangan Federasi Prancis

ED
Senin, 29 Juli 2024 | 10:00 WIB
Bagikan
Diaba Konate: Perjuangan Atlet Basket Berhijab di Tengah Larangan Federasi Prancis

Pada September tahun lalu, Menteri Olahraga Prancis, Amelie Oudea-Castera, mengonfirmasi bahwa hijab dilarang untuk semua tim Prancis di Olimpiade, di bawah prinsip-prinsip sekularisme Prancis, yakni laicite. Kebijakan tersebut dikritik oleh Kantor HAM PBB dan Komite Olimpiade Internasional (IOC). IOC kemudian menyatakan bahwa hijab diperbolehkan di dalam kampung atlet.

Pada April, Ketua Olimpiade Paris Tony Estanguet mengatakan kepada Editor Olahraga BBC, Dan Roan, bahwa "terserah pada negara, delegasi dan Komite Olimpiade Nasional untuk memutuskan bagi para atlet jika mereka ingin aturan lain diberlakukan atau tidak". Dia juga menegaskan bahwa "tidak ada yang melanggar dari delegasi Prancis. Ini adalah keputusan mereka".

Laicite sering diterjemahkan sebagai sekularisme dalam bahasa Inggris. Laicite tidak mengharuskan masyarakat Prancis untuk meninggalkan simbol-simbol keagamaan, tetapi sebaliknya, negara dan lembaga-lembaga publik harus bebas dari simbol-simbol tersebut. Ini adalah identitas utama Prancis yang berasal dari hukum tahun 1905 ketika gereja dipisahkan dengan negara.

Namun pegiat HAM mengkritik cara-cara penafsiran konsep laicite di Prancis saat ini. Ba, yang memiliki spesialisasi dalam bidang HAM dan hukum kemanusiaan, mengatakan bahwa laicite "sangat disalahpahami" dan "tidak berlaku di atas HAM". "Konsep ini telah menjadi alat untuk menghapus semua perbedaan, khususnya identitas Muslim, dan lebih spesifik lagi perempuan yang mengenakan jilbab," kata Ba.

"Beberapa dari kami menjadi aktivis karena aturan ini, tapi yang ingin saya tekankan adalah kami tidak diberi solusi, terutama perempuan Muslim muda karena mereka tidak tahu alasan mereka dikucilkan." Ketika sebuah aturan menargetkan kelompok minoritas dan menciptakan diskriminasi serta melanggar hak-hak orang, maka hal itu harus menjadi perhatian semua orang. Jika hari ini targetnya adalah kami, besok bisa saja Anda."

"Kami tumbuh tanpa panutan, dan kami tidak akan pernah memiliki panutan seorang atlet berhijab Prancis yang memiliki tim nasional kalau aturan ini tetap berlaku," kata Ba.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.