Di Tengah Ancaman dan Harapan, Iran–AS Uji Jalur Damai di Oman

ED
Sabtu, 7 Februari 2026 | 10:03 WIB
Bagikan
Di Tengah Ancaman dan Harapan, Iran–AS Uji Jalur Damai di Oman

VISI.NEWS | BANDUNG Pertemuan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di Muscat berlangsung dalam suasana yang jauh dari kata tenang. Bukan sekadar dialog biasa, perundingan ini menjadi ujian apakah dua negara yang baru saja berada di ambang konflik terbuka masih memiliki ruang untuk berbicara tentang perdamaian.

Oman kembali memainkan peran lamanya sebagai penengah. Di ibu kota Muscat, delegasi kedua negara duduk satu meja untuk pertama kalinya sejak eskalasi militer tahun lalu yang melibatkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dunia memandang pertemuan ini sebagai peluang langka untuk menurunkan suhu ketegangan, meskipun bayang-bayang konflik masih sangat terasa.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya datang dengan sikap terbuka namun tidak akan mengorbankan kepentingan nasional.

“Iran memasuki dunia diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang kuat tentang tahun lalu. Kami terlibat dengan itikad baik dan teguh bagi hak-hak kami. Komitmen harus dihormati. Kedudukan yang setara, saling menghormati, dan kepentingan bersama bukanlah retorika — itu adalah keharusan dan pilar dari kesepakatan yang bertahan lama,” ujarnya.

Nada serupa disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, yang menekankan pentingnya memanfaatkan setiap peluang diplomasi.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk menggunakan diplomasi guna menjaga perdamaian. Kami berharap AS akan berpartisipasi dalam proses ini dengan bertanggung jawab, realistis, dan serius,” katanya.

Di sisi lain, Washington datang dengan agenda yang tegas. Program nuklir Iran tetap menjadi perhatian utama. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa delegasi AS ingin memastikan Iran tidak memiliki kemampuan nuklir yang berpotensi mengancam stabilitas kawasan. Ia juga mengingatkan bahwa jalur diplomasi bukan satu-satunya opsi di tangan Presiden Donald Trump.

“Delegasi AS berniat mengeksplorasi semua cara untuk memastikan Iran tidak memiliki kapasitas nuklir yang dapat mengancam stabilitas regional. Diplomasi tetap menjadi prioritas, tetapi Presiden Trump memiliki banyak opsi selain diplomasi,” ucapnya.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.