Di Kota Solo Bencana Alam Kecil Bisa Berbahaya karena Padat Penduduk
ED
Editor
Fendy Sy Citrawarga
Rabu, 25 Mei 2022 | 14:45 WIB
VISI.NEWS | SOLO - Sebanyak enam kelurahan di Kota Solo yang termasuk kategori rawan bencana, yakni Kelurahan Gandekan, Pajang, Joyotakan, Sumber, Jebres, dan Banyuanyar, dipersiapkan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana) agar dapat beradaptasi dan memiliki ketangguhan menghadapi ancaman bencana sehingga mampu segera memulihkan diri dari dampak bencana yang merugikan.
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solo, Nico Agus Putranto, mengatakan kepada wartawan, Rabu (25/5/2022), pihaknya pada Selasa (24/5/2022) melakukan sosialisasi tentang pentingnya peran masyarakat dalam mendukung pemerintah melakukan penanggulangan bencana dengan menginisiasi pembentukan Destana.
"Ancaman bahaya saat terjadi bencana di Kota Solo sangat besar karena tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Padahal, bencananya sendiri sebenarnya termasuk kategori ringan. Tapi karena permukiman penduduk yang sangat padat, kategori ancaman bahayanya menjadi besar karena bisa jatuh korban banyak," ujar Nico.
Menurut Kalak BPBD itu, masalah yang dihadapi lembaganya adalah karena jumlah personel evakuasi di BPBD Kota Solo hanya 15 orang sehingga jika terjadi bencana di sejumlah titik secara bersamaan, personel yang datang hanya satu atau dua orang per lokasi.
Di lokasi bencana, personel BPBD akan melakukan asesmen, antara lain memastikan wilayah mana yang tergenang, berapa RT, berapa rumah, dan jumlah korban yang terdampak dan sebagainya.
Berdasarkan hasil asesmen, personel BPBD melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan wilayah bencana, seperti ketua RT atau RW dan lurah.
"Langkah berikutnya, personel BPBD akan meminta ketua RT atau RW cepat berkoordinasi dengan pemangku kepentingan kelurahan jika ada warga yang menjadi korban bencana. Dengan pola penanganan bencana seperti itu, jika bencana terjadi di banyak titik pihak kelurahan bisa lebih cepat mengkoordinasi dengan cepat dalam menangani," jelasnya.
Kalak BPBD menegaskan, dalam pembentukan Destana basis penanggulangan bencana sekarang berbasis masyarakat. Di masa lalu, katanya, saat terjadi bencana, masyarakat menunggu datangnya bantuan untuk ditolong, tetapi kini masyarakat secara proaktif menjadi penolong.
"Karena berdasarkan pengalaman bencana kecil atau besar yang menolong pertama pasti tetangga. Makanya dalam sosialisasi ini kami berdiskusi menyusun program yang paling ideal untuk penanganan bencana, di antaranya program Destana," sambungnya.
Nico menambahkan, di antara 6 kelurahan peserta sosialisasi, terdapat 2 kelurahan yaitu Jebres dan Banyuanyar yang mengajukan sebagai Destana mandiri. Seluruh biaya operasional ditanggung kelurahan tersebut.
Nico Agus Putranto juga menyatakan, terjadinya bencana tidak bisa diprediksi. Bulan Mei yang biasanya sudah memasuki musim kemarau, pada Mei 2022 ini justru masih sering turun hujan. @tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!