Di Industri Pariwisata Tulisan "Ngebut Benjut" Bisa Bikin Wisatawan Takut
Dia menyebut GIPI DIY yang saat ini membina Pokdarwis Trirenggo, Mangunan dan Karebet, telah berhasil mengembangkan desa wisata di 3 desa tersebut. Bahkan, Pokdarwis Karebet di Desa Krebet, Kabupaten Bantul, yang memanfaatkan potensi batik kayu dan wayang kayu sebagai komoditas ekspor hasil kerajinan rakyat merupakan juara nasional.
Di wilayah Provinsi Jawa Tengah, sambungnya, Pokdarwis Borobudur yang juga merupakan juara nasional dan peningkatannya di atas DIY, kini tengah mengembangkan desa wisata di kawasan Bukit Menoreh.
Di kawasan yang lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur, Pokdarwis yang didukung dunia- usaha mengembangkan desa wisata dengan membangun guest house, wahana permainan dan sebagainya.
"Kalau Pokdarwis punya rencana mengembangkan desa wisata, perlu menggandeng dunia usaha. Misalnya, di desa ada sungai bisa dipoles sebagai destinasi wisata. Kemudian, aksesibilitasnya dikembangkan, diciptakan atraksi dan didukung amenitas yang memadai. Pemasarannya bisa dibranding melalui media sosial," tuturnya lagi.
Senada dengan Muhammad Abdullah, Kepala KPw BI Solo, Nugroho Joko Prastowo, juga menekankan pentingnya "3A" berupa aksesibilitas, atraksi dan amenitas, seperti hotel, restoran, rumah makan dan sarana olahraga dan lain-lain, dalam pengembangan desa wisata.
Banyak desa wisata yang menarik kunjungan wisatawan, seperti Obelix Hill, Tebing Brexi, di kawasan Borobudur dan sebagainya, akan menggerakkan perekonomian desa karena banyak pihak yang terlibat di dalamnya.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!