Dede Farhan: Perang Psikologi Warnai Konfigurasi Pesta Demokrasi
VISI.NEWS | BANDUNG - Perang dengan segala kepentingannya selalu mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki guna memenangkan peperangan secara efektif dan efisien, meskipun dalam prakteknya satu sama lain memiliki strategi yang sama atau berbeda sehingga memenangkan peperangan dalam waktu yang singkat bukanlah hal yang mudah. Di samping penggunaan berbagai senjata, dalam perang juga ada yang dikenal dengan perang psikologis (psywar) sebagai bagian yang tidak terpisahkan untuk saling menjatuhkan mental/ psikologi musuh. Bahkan dalam prakteknya, di dunia politik pun sering menerapkan strategi psywar ini sebagai bagian untuk menjatuhkan mental lawan politik," ujar Pemerhati Strategi Pertempuran Politik Dede Farhan Aulawi di Bandung, Senin (19/2/2024).
Menurutnya psywar (Psychological Warfare atau perang psikologis) merupakan teknik atau strategi yang digunakan dalam perang atau konflik untuk mempengaruhi persepsi, sikap, dan perilaku orang atau kelompok tertentu dengan tujuan mencapai tujuan yang diinginkan. Teknik psywar dapat meliputi propaganda, manipulasi media, dan taktik psikologis lainnya untuk mengubah opini, kepercayaan, atau perilaku orang. Ini dapat digunakan dalam situasi perang untuk memenangkan dukungan publik atau mempengaruhi musuh untuk menyerah, tetapi juga dapat digunakan dalam situasi lain, seperti politik atau bisnis. Jadi implementasinya saat ini semakin luas, bahkan di dalam kompetisi politik sering digunakan sebagai salah satu strategi pemenangan dukungan politik sekaligus menjatuhkan mental kompetisi pihak yang dijadikan “lawan politik”.
Perang psikologis ini, kata Dede Farhan, kadang disebut juga dengan istilah perang urat saraf karena dinilai sebagai bentuk propaganda ofensif yang dilancarkan dua atau lebih pihak yang saling bertentangan. Salah satu batasan akademiknya adalah "suatu tindakan yang dilancarkan menggunakan cara-cara psikologi dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis yang telah terancang terhadap pihak lain". Peperangan psikologis biasanya menjadi operasi terpisah, dalam istilah bahasa Inggris disebut PSY-OP (psychological operation). Reaksi psikologis manusia dianggap sebagai prioritas utama sasaran. Tujuan utama peperangan psikologis adalah mengubah sikap publik atau lawan agar berkurang tingkat penentangan atau militansinya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!