Dede Farhan: Perang Psikologi Warnai Konfigurasi Pesta Demokrasi

ED
Senin, 19 Februari 2024 | 15:30 WIB
Bagikan
Dede Farhan: Perang Psikologi Warnai Konfigurasi Pesta Demokrasi

Selanjutnya Dede juga menjelaskan bahwa penggunaan taktik peperangan psikologis dalam pesta demokrasi sering dilakukan oleh para tim sukses masing-masing kandidat. Operasi psikologis dalam perang politik dianggap menjadi faktor yang menentukan untuk memengaruhi target, sistem kepercayaan, emosi, motif, pemikiran, dan perilaku. Sasaran dalam operasi psikologis bisa jadi pemerintah, organisasi, kelompok, dan individu dengan menggunakan teknologi informasi, termasuk didalamnya penggunaan berbagai media social. Dalam prakteknya psywar dapat digunakan dengan cara yang etis atau tidak etis, dan dapat memiliki efek jangka pendek atau jangka panjang yang signifikan terhadap individu atau masyarakat secara keseluruhan.

Kemudian Dede juga menambahkan bahwa dalam politik, psywar sering digunakan dalam kampanye pemilihan untuk mempengaruhi opini publik tentang seorang kandidat atau partai politik tertentu. Ini dapat dilakukan melalui iklan politik, pernyataan publik, atau strategi lainnya. Media sosial dapat menjadi alat yang efektif dalam psywar. Konten yang didesain secara spesifik dapat diposting di media sosial untuk mempengaruhi persepsi dan opini publik tentang suatu topik atau isu. Termasuk didalamnya apa yang disebut dengan propaganda, baik melalui media, seperti surat kabar, majalah, atau televisi, dan dapat juga dilakukan melalui poster, pamflet, atau brosur.

Dengan demikian, ia menyimpulkan bahwa peperangan psikologis pada dasarnya bertujuan untuk mengintimidasi dan melemahkan semangat musuh. Penggunaan ancaman, propaganda, dan strategi yang lebih halus ini telah digunakan selama ribuan tahun untuk memengaruhi pemikiran musuh. Dalam prosesnya, militer dan masyarakat sipil sama-sama menjadi sasaran keganasan perang ini. Lewat perang psikologis, pihak yang dapat mengendalikan emosi dan logika atas musuh mereka akan muncul sebagai pemenang.

Lebih lanjut Dede juga menguraikan perspektif tinjauan sejarah, seperti Aztec Death Whistles (peluit maut Aztec) yang terdengar bagaikan "jeritan 1.000 mayat", dimana peluit ini digunakan dalam ritual dan perang masyarakat Aztec untuk melancarkan perang psikologis. Suara siulan yang menakutkan akan mematahkan tekad musuh. Begitupun dalam 36 Stratagems (36 Strategi) Tiongkok kuno tentang perang. Sebagian besar didasarkan pada seni penipuan dan menggunakan teknik psikologis untuk melemahkan niat musuh untuk bertarung. Dalam prakteknya dioperasionalkan dalam "Strategi Serangan," "Strategi Kekacauan," "Strategi Situasi Putus Asa," dan banyak skenario perang lainnya. Bahkan dalam konflik antara negara Yue dengan negara Wu, Raja Goujian memerintahkan pasukan garis depan untuk memenggal kepalanya sendiri sebagai sebuah bentuk perang psikologis untuk menghancurkan semangat perlawanan dari pihak musuh.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.