Dede Farhan Aulawi Perkuat Intelijen Medik Respon Potensi Ancaman Senjata Biologi
Intelijen medik pada dasarnya bertugas untuk menyelenggarakan kegiatan Intelijen di bidang kesehatan dalam merespon potensi ancaman yang berbahay,a khususnya ancaman biologis atau bio-threat. Oleh karena itu, Intelijen Medik menjadi lini terdepan dalam melakukan respon terhadap segala bentuk ancaman biologis dengan melaksanakan deteksi dan peringatan dini terhadap ancaman biologis yang berpotensi mengancam keselamatan negara.
Kemudian saat ini muncul juga apa yang disebut dengan senjata biologis sintetis (Synthetic bioweapon, SBW) yang merupakan hasil modifikasi biologi sebagai senjata melalui proses biologi sintetis untuk menciptakan efek, mekanisme, atau proses baru. Misalnya, CRISPR-Cas9 (clustered regularly interspaced short palindromic repeats) dan Protein Asosiasi CRISPR 9 yang memungkinkan lahirnya senjata biologi berkemampuan baru, karena sulit dideteksi, tidak memiliki perbandingan setara konvensional, dan lebih sulit dilawan.
Itulah sebabnya, kemajuan ilmu bioteknologi (terutama rekayasa genetika) dapat disalahgunakan untuk mengembangkan senjata biologis yang sangat berbahaya, contohnya adalah menghasilkan organisme makroskopis yang secara genetik sudah dimodifikasi untuk memproduksi toksin atau racun berbahaya. Berbagai agen biologis patogenik juga dapat direkayasa secara genetik agar lebih tahan atau stabil pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dan memiliki resistensi terhadap antibiotik, vaksin, dan terapi yang sudah ada. Selain itu, bioteknologi juga dimanfaatkan untuk pembuatan agen biologis yang tidak dapat dikenali oleh sistem imun atau antibodi tubuh karena profil imunologisnya telah diubah.
“Dalam perspektif sejarah, senjata biologis sudah muali digunakan sejak tahun 400 SM, ketika orang Iran Kuno (scythians) menggunakan panah yang dicelupkan ke dalam feses (kotoran) dan mayat makhluk hidup yang telah membusuk. Hal serupa juga dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya ke dalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang dengan musuhnya. Apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut, maka terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Begitupun ketika bangsa Mongol mengusir bangsa Genoa dari kota Kaffa di Laut Hitam dengan memanfaatkan mayat-mayat manusia yang terinfeksi wabah pes sehingga menimbulkan 'kematian hitam' (black death) di wilayah Eropa. Kemudian ketika pasukan Britania Utara memberikan pakaian dan selimut dari rumah sakit yang merawat penderita cacar kepada bangsa Indian untuk memusnahkan bangsa tersebut. Dan banyak lagi sejarah peperangan yang telah menggunakan senjata biologis yang tumbuh berdasarkan ilmu pengetahuan yang berkembang saat itu, " pungkas Dede.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!