Dede Farhan Aulawi Aktif Lakukan Diplomasi Internasional Melalui Pendekatan Wisata Budaya

ED
Senin, 1 Januari 2024 | 15:05 WIB
Bagikan
Dede Farhan Aulawi Aktif Lakukan Diplomasi Internasional Melalui Pendekatan Wisata Budaya

VISI.NEWS | BANDUNG - Mengakhiri tahun 2023, Dede Farhan Aulawi semakin meneguhkan sikap dalam kancah pergaulan internasional untuk menjelaskan sikap dan prinsip sebuah bangsa yang mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Mekanisme yang ia tempuh sangat bervariatif, baik dari sisi format maupun kluster territorial dan segmentasi profesi yang berbasis komunitas.

Terlebih dalam menghadapi isu – isu global seperti perubahan iklim yang dianggap sebagai ancaman yang membahayakan keselamatan dan kesejahteraan masa depan umat manusia, termasuk ancaman terhadap stabilitas mata uang dan pasar yang ditimbulkan oleh dampak perubahan iklim. Secara khusus, putaran pelonggaran kuantitatif non-konvensional global melalui penerbitan mata uang pelengkap koin karbon, yang akan diterbitkan sesuai dengan jumlah karbon yang dimitigasi. Konsep moneter pelonggaran kuantitatif karbon didasarkan pada proposal kebijakan nyata yang disebut Penghargaan Karbon Global , dan makalah akademis yang disebut "Kertas Chen".

Pembahasan masalah strategis ini tidak dibahas dalam pendekatan formal yang dinilai terlalu kaku, seremonial dan terikat protokoler formal. Ketua Umum Gerakan Nasional Pecinta Pariwisata Republik Indonesia (Genppari) itu melakukannya dengan gaya khasnya yang sederhana dan informal, yaitu melalui Culture Tourism Approach atau saluran Diplomasi wisata Budaya. Hal tersebut ia lakukan saat mendampingi rekan – rekannya dari Perancis, Jerman dan Italia saat mengunjungi kawasan wisata Tanah Toraja yang terletak di wilayah bagian utara Sulawesi Selatan, sekitar 300 km dari kota Makassar, akhir tahun 2023 kemarin.

Dalam pendekatan wisata budaya, mereka mengunjungi Pallawa, yaitu sebuah komplek perumahan adat masyarakat Tana Toraja atau disebut Tongkonan. Arsitektur dari bangunan ini sangat khas, dimana bentuk atapnya yang melengkung seperti sebuah perahu. Lalu berkunjung ke Londa, yang merupakan bebatuan curam dan memiliki gua alam yang dijadikan makam. Kemudian berangkat ke Batutumonga, dimana terdapat sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Menhir adalah tugu batu warisan zaman megalitikum yang digunakan untuk memuja arwah leluhur.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.