CTRL+J APAC 2025 Hari Kedua: Ketika AI, Bahasa Lokal, dan Keadilan Data Jadi Sorotan

Desi Rossilawati
Kamis, 24 Juli 2025 | 18:21 WIB
Bagikan
CTRL+J APAC 2025 Hari Kedua: Ketika AI, Bahasa Lokal, dan Keadilan Data Jadi Sorotan

Pemerintah Australia juga berinisiatif meluncurkan  program tawar menawar berita (news bargaining code) untuk mewajibkan perusahaan raksasa teknologi digital seperti Google dan Metta. Nelson mencontohkan apa yang terjadi di Kanada, dimana perusahaan-perusahaan teknologi digital  memblokir konten berita di platform mereka.

“News Bargaining Initiatives mendorong platform digital untuk masuk atau memperbarui kesepakatan dengan penerbit berita. Pada saat yang sama, Amerika mengancam akan memperlakukan tarif tambahan atau tarif yang lebih tinggi di Australia karena kami mengatur teknologi, sementara perusahaan-perusahaan teknologi menjarah organisasi-organisasi berita di Australia,” imbuhnya.

Pada panel diskusi bertema 'Preparing the Future: Amplifying Diverse Voice and Addressing the Language Barrier in AI'  menghadirkan empat pembicara. Salah satunya Program Director for Training and Network Meedan, Shalini Joshi menerangkan bahwa AI sebagai pemeriksa fakta saat ini tersedia dalam 31 bahasa di Asia yang bertujuan membantu media dan organisasi masyarakat sipil dalam memperluas artikel.

Sedangkan Senior Director of AI Product dari AI IG, Leslie Teo mempresentasikan LLM SEA-Lion yang fokus pada bahasa-bahasa di Asia Tenggara, terutama bahasa-bahasa lokal seperti Jawa, Ambon dan lainnya. Pembicara lain, peneliti AI Center ITB, Ayu Purwarianti menjelaskan  proyek Nusa Dialogue yang digagas oleh ITB untuk mendokumentasikan bahasa-bahasa daerah di Indonesia, dengan sumber data yang berasal dari para penutur asli bahasa dan dialek daerah.

Sedangkan dua pembicara yang hadir dalam diskusi panel 'Preparing for the Future: Publisher’ Preparedness and Engagement Strategy in the Era of AI', adalah Executive Director of Nucleo Journalismo asal Brasil Sergio Spagnuolo yang memaparkan berdasarkan riset, Indonesia dan Brasil memiliki kebijakan AI yang sangat permisif, hanya 5-6 persen situs web media yang memblokir setidaknya satu agen AI dalam file robot.txt mereka.

“Sementara itu, proporsinya 35 persen di Amerika Serikat. Kami akan segera merilis sebuah alat untuk penerbit menghasilkan file robot.txt anda sendiri, untuk membantu Anda memblokir bot apapun yang ingin anda blokir,” katanya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.