"Crazy Rich" Muncul Akibat Sikap Hedonis, Ini Penjelasan Pakar SDM

ED
Kamis, 31 Maret 2022 | 05:31 WIB
Bagikan
"Crazy Rich" Muncul Akibat Sikap Hedonis, Ini Penjelasan Pakar SDM

VISI.NEWS | SOLO - Lanskap sumber daya manusia (SDM) di Indonesia saat ini, berdasarkan latar belakang pendidikan dan pekerjaannya terdapat 3 hal yang menunjukkan realitas di masyarakat.

Ke-3 hal tersebut, yaitu terdiri dari kaitan antara komposisi keahlian dengan pendidikan, kedua persoalan yang berhubungan dengan industrial di masa depan dan ketiga terkait dengan behavior economic berupa gejala circle money.

Pakar SDM yang merupakan praktisi dengan kompetensi utama bidang strategi manajemen dan pengembangan SDM, Prof. Dr. Soeprayitno, mengungkapkan hal itu, menanggapi pertanyaan VISI.NEWS dalam jumpa pers di Tower 11 Gedung Ki Hajar Dewantara, kompleks kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Kentingan, Rabu (30/3/2022).

"Masalah ketiga behavior economic atau gejala circle money, salah satunya terjadi akibat sikap hedonik di masyarakat. Sehingga, (dari sikap itu) muncul yang namanya 'Grazy Rich'. Terjadi flashing yang dipaksa-paksa, seolah-olah sudah kaya," ujar Soeprayitno yang akan dikukuhkan sebagai profesor kehormatan UNS, Kamis (31/3/2022).

Dalam hal komposisi keahlian versus pendidikan, menurut Prof. Soeprayitno yang kini memangku sederet jabatan di berbagai lembaga, seperti di Apindo, sebagai Komisioner Dewan Jaminan Sosial Nasional, di beberapa perusahaan antara lain PT. Indorama Synthetics Tbk, Toshiba Electronic Group, PT. Surya Citra Televisi dan lain-lain, terjadi kegayutan pekerjaan secara vertikal dan horisontal berupa terjadinya under education dan over education.

Dia mengungkapkan, dalam kondisi kegayutan pekerjaan tersebut dalam realitas di lapangan kerja para lulusan SMA mengerjakan pekerjaan lulusan SD, serta para lulusan S-1 mengerjakan pekerjaan lulusan SMA dan diploma 3. Sedangkan lulusan S-1 yang tidak dapat pekerjaan melanjutkan ke S-2 dan yang S-2 ke S-3.

"Kesenjangan SDM ini terjadi kurang lebih 60 persen dari angkatan kerja. Akibatnya, di Indonesia human capital terjadi loss, karena kondisi yang sesungguhnya seperti itu. Kemudian, secara vertikal juga, orang yang lulus universitas bekerja tidak sesuai kompetensinya," jelasnya.

Menyinggung hal ke-2 yang terkait hubungan industrial, Prof. Soeprayitno, menyebutkan, di masa depan akan terjadi pekerjaan yang hilang dan pekerjaan yang tergantikan.

Kemudian, kondisi itu disusul munculnya generasi milenial dengan berbagai metafaces dan sebagainya. Dia melihat, perguruan tinggi belum menuju ke arah sana. Padahal, anak-anak yang usia 35 tahunan tidak mau menunggu pekerjaan terlalu lama.

Berdasarkan ketiga hal tersebut, guru besar kehormatan UNS yang termasuk salah seorang anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UNS itu, mengingatkan, anak-anak muda harus hati-hati menghadapi realitas tersebut. Karena, tidak ada (karier) yang sukses tanpa pengorbanan.

Dr. Soeprayitno setelah dikukuhkan akan menyandang gelar profesor (UNS) sebagai guru besar kehormatan bidang ilmu manajemen SDM pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, menjelaskan, Prof. (UNS) Dr. Soeprayitno, dikukuhkan sebagai profesor kehormatan non-akademik karena kepakarannya di bidang SDM.

Dalam pengukuhan di depan sidang terbuka senat akademik, Prof. Soeprayitno, akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Model Pentahelix dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Era Industri 4.0 (Implementasi Dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka)."@tok

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.