CFD dan Braga Beken Bandung Segera Dibangkitkan
Pemkot Bandung memastikan CFD dan Braga Beken tetap berlanjut setelah tata kelola dan konsep penataan dibenahi. /visi.news/ist
- Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung menggunakan anggaran pengelolaan CFD untuk mendukung keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan penertiban dan pengamanan pelaksanaan CFD.
- mekanisme tersebut dalam evaluasi pemerintah ditemukan memiliki persoalan administratif dan tata kelola yang perlu diperbaiki.
VISI.NEWS — Warga Kota Bandung masih harus bersabar untuk kembali menikmati akhir pekan tanpa hiruk-pikuk kendaraan di sejumlah ruang publik. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan program Car Free Day (CFD) dan Braga Bebas Kendaraan (Braga Beken) tidak akan dihapus.
Kedua program tersebut tetap dipandang penting bagi Kota Bandung. Namun, sebelum kembali digelar, Pemkot Bandung memilih melakukan evaluasi dan pembenahan tata kelola agar pelaksanaannya ke depan lebih tertib dan sesuai ketentuan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan evaluasi terhadap CFD merupakan bagian dari upaya memperbaiki tata kelola pemerintahan. Penghentian sementara dilakukan setelah ditemukan persoalan administrasi dalam pengelolaan kegiatan di lapangan.
Menurut Farhan, selama ini Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung menggunakan anggaran pengelolaan CFD untuk mendukung keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan penertiban dan pengamanan pelaksanaan CFD.
Namun, mekanisme tersebut dalam evaluasi pemerintah ditemukan memiliki persoalan administratif dan tata kelola yang perlu diperbaiki.
“Evaluasi CFD itu sebetulnya adalah sebuah bentuk pengendalian tata kelola pemerintahan. Selama ini Dishub memang memanfaatkan dana anggaran pengelolaan CFD untuk meminta bantuan berbagai macam pihak melakukan penertiban dan lain-lain. Tetapi ada kesalahan administrasi, ada kesalahan tata kelola maka saya stop dulu, perbaiki dulu semuanya,” ujar Farhan, Rabu (2/8/2026).
Bukan Dihapus, Hanya Dibenahi
Penghentian sementara CFD dan Braga Beken sempat menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan dua program yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ruang publik Bandung.
Farhan menegaskan, keputusan tersebut bukan berarti Pemkot Bandung ingin menghapus CFD.
Sebaliknya, pemerintah ingin memastikan kegiatan yang melibatkan anggaran daerah dan banyak pihak tersebut memiliki sistem pengelolaan yang jelas.
Dengan pembenahan itu, pelaksanaan CFD diharapkan dapat kembali berjalan tanpa menyisakan persoalan administrasi maupun tata kelola.
Pemkot Bandung kini masih menunggu konsep penataan yang lebih jelas, baik untuk CFD maupun Braga Beken.
“Saya harus lihat dulu konsep dari penataan CFD dan Braga Beken itu jadi seperti apa. Kalau itu sudah clear dan jelas ya kita akan jalankan lagi,” kata Farhan.
Bandung Tetap Butuh Ruang Bebas Kendaraan
Bagi Bandung, CFD bukan sekadar kegiatan menutup jalan dari kendaraan bermotor.
Setiap pelaksanaannya, ruang jalan berubah menjadi tempat warga berolahraga, berjalan kaki, bersepeda, berkumpul, hingga menikmati suasana kota tanpa dominasi kendaraan.
Karena itu, keberadaan CFD memiliki fungsi sosial sekaligus menjadi bagian dari upaya menyediakan ruang publik bagi warga.
Hal serupa berlaku untuk Braga Beken. Kawasan Jalan Braga memiliki karakter berbeda karena tidak hanya menjadi ruang aktivitas warga, tetapi juga salah satu ikon pariwisata Kota Bandung.
Farhan memastikan kedua program tersebut tetap dibutuhkan.
“Harus dilanjut karena kita memang membutuhkan hal itu. Kita butuh CFD, kita butuh Braga Beken,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa penghentian sementara bukanlah akhir dari dua program tersebut. Pemerintah justru ingin menjadikannya momentum untuk melakukan pembenahan.
Braga Beken Tak Cukup Sekadar Bebas Kendaraan
Khusus Braga Beken, Pemkot Bandung melihat peluang yang lebih besar daripada sekadar menghadirkan kawasan tanpa kendaraan.
Braga memiliki sejarah, arsitektur, aktivitas perdagangan, kuliner, seni, serta karakter kota yang membuatnya menjadi salah satu kawasan yang paling mudah dikenali wisatawan ketika berkunjung ke Bandung.
Karena itu, konsep Braga Beken ke depan akan terus dikembangkan agar kawasan tersebut semakin menarik sebagai tujuan wisata.
Penataan tidak hanya diarahkan pada pembatasan kendaraan bermotor, tetapi juga pada bagaimana menghadirkan aktivitas yang membuat masyarakat memiliki alasan untuk datang dan menghabiskan waktu di kawasan tersebut.
“Konsep Braga juga tentu akan dikembangkan lagi sedemikian rupa sehingga semakin menarik sebagai tempat wisata,” tutur Farhan.
Dengan pendekatan tersebut, Braga Beken berpotensi menjadi ruang yang menggabungkan mobilitas ramah pejalan kaki, pariwisata, ekonomi kreatif, kuliner, seni, hingga kegiatan komunitas.
Menata Ulang, Bukan Mematikan
Evaluasi yang dilakukan Pemkot Bandung menunjukkan bahwa keberlanjutan sebuah program publik tidak hanya bergantung pada antusiasme masyarakat, tetapi juga pada tata kelola di belakangnya.
CFD dan Braga Beken memang terlihat sederhana dari sisi pengguna. Jalan ditutup, kendaraan dialihkan, kemudian masyarakat menggunakan ruang tersebut untuk berbagai kegiatan.
Namun di baliknya terdapat kebutuhan koordinasi, pengaturan lalu lintas, penertiban, keamanan, kebersihan, anggaran, serta keterlibatan berbagai pihak.
Karena itu, Pemkot Bandung kini memilih membereskan aspek tersebut sebelum kegiatan kembali berjalan.
Jika konsep penataan sudah dinyatakan jelas, Farhan memastikan kedua program akan dilanjutkan.
Bagi warga Bandung, kabar tersebut berarti satu hal: CFD dan Braga Beken bukan hilang dari kalender Kota Bandung, melainkan sedang disiapkan untuk kembali dengan tata kelola yang lebih baik.
Dan ketika keduanya kembali digelar, harapannya bukan sekadar jalan yang bebas kendaraan, tetapi ruang kota yang lebih tertib, nyaman, hidup, dan semakin menarik bagi warga maupun wisatawan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!