BRIN Kaji Pembakaran Terkontrol Untuk Kendalikan Kebakaran Hutan
Ilustrasi./visi,news/betahita.
VISI.NEWS | JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji penggunaan pembakaran terkontrol pada ekosistem tertentu sebagai salah satu strategi mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Kajian ini muncul ketika wilayah terdampak kebakaran di Indonesia meningkat tajam dalam periode Januari hingga Mei.
Kepala Pusat Penelitian Ekologi BRIN, Asep Hidayat, mengatakan sebagian besar kebakaran hutan dan lahan dipicu aktivitas manusia. Kondisi iklim kering kemudian memperbesar skala dan tingkat keparahan kebakaran. Dalam konteks ini, pengendalian tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman, tetapi juga membutuhkan pencegahan sejak awal.
"Pengelolaan kebakaran membutuhkan pencegahan, deteksi dini, restorasi ekosistem, dan keterlibatan masyarakat, termasuk kemungkinan melalui pembakaran terkontrol di ekosistem tertentu," kata Asep Hidayat dalam keterangannya dikutip, Senin (16/6/2026).
Menurut Asep, pembakaran terkontrol dapat memberi manfaat apabila dilakukan secara tepat. Praktik ini dapat mempercepat regenerasi hutan, mengurangi tumpukan bahan mudah terbakar seperti daun kering, ranting, dan rumput, mengendalikan spesies invasif, menjaga keseimbangan ekosistem, serta meningkatkan kesuburan tanah.
Asep juga mengutip pakar pengelolaan kebakaran McRee Anderson dari organisasi lingkungan internasional The Nature Conservancy. Praktik serupa disebut telah digunakan selama beberapa dekade di Amerika Serikat, Australia, dan Kanada untuk mengurangi beban bahan bakar alami serta mengelola risiko kebakaran hutan.
Urgensi kajian tersebut terlihat dari data Kementerian Kehutanan yang dipaparkan dalam diskusi. Luas kumulatif lahan terdampak kebakaran dari Januari hingga Mei mencapai 81.077 hektar. Angka ini melonjak dibandingkan 10.444 hektar pada periode yang sama tahun 2025.
"Bisakah kebakaran dikendalikan? Jawabannya ya, meskipun membutuhkan studi mendalam tentang potensi dampak negatifnya," ujar Asep.
Sementara itu, Wakil Kepala Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut pemantauan satelit mendeteksi 2.312 titik api di seluruh Indonesia sejak awal tahun hingga 8 Juni. Titik api terbanyak berada di Riau dengan 607 titik, disusul Kalimantan Barat 478 titik, dan Aceh 220 titik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!