Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026

BMKG Peringatkan Perubahan Iklim Ekstrem, Butuh Perubahan Perilaku Segera

Desi Rossilawati
Rabu, 29 Januari 2025 | 19:30 WIB
Bagikan
BMKG Peringatkan Perubahan Iklim Ekstrem, Butuh Perubahan Perilaku Segera
VISI.NEWS | JAKARTA - Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyampaikan bahwa laju pemanasan global saat ini berlangsung dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibanding beberapa abad lalu. Maka dari itu butuh perubahan perilaku segera. "Pemanasan global semakin cepat. Sebelumnya butuh waktu ratusan ribu bahkan jutaan tahun," katanya, Rabu (29/1/2025). "Sekarang, dari tahun 1900 sampai tahun ini sudah capai kenaikan 1,5 derajat Celcius. Padahal kesepakatan dunia di Paris mengizinkan kenaikan 1,5 derajat Celcius tapi nanti di tahun 2100," ujar  Dwikorita. Dwikorita mengingatkan bahwa percepatan pemanasan global ini memicu cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang lebih sering terjadi dengan durasi panjang serta intensitas tinggi. "Karena siklus hidrologisnya semakin kencang, sehingga cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Durasinya makin panjang, intensitasnya makin kuat, dan bencananya terjadi tidak hanya skala lokal tapi juga global," kata Dwikorita. Paparannya dalam webinar "Resolusi 2025: Mitigasi Bencana Geologi" juga menyebutkan bahwa 2024 adalah tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan anomali suhu mencapai 1,54 derajat Celcius di atas rata-rata praindustri. "Diprediksi di tahun 2030, (data 2019), kenaikan suhu akan meningkat 0,5 derajat Celcius. Ternyata preediksi ini sudah terlampaui," imbuhnya. Lebih lanjut, perubahan iklim ini diproyeksikan menyebabkan penurunan curah hujan hingga 20% pada musim kemarau, yang membuat musim kering semakin panas dan musim hujan lebih basah serta ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. "Kejadiannya hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Terjadi kenaikan curah hujan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hujan ekstrem semakin sering terjadi," ucapnya. "Terjadi juga kenaikan penurunan curah hujan di saat musim kemarau. Jadi musim kemarau makin kering, musim hujan makin basah, pokoknya makin ekstrem. Ini prediksi yang dilakukan BMKG," terang Dwikorita. Di sisi lain, Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memprediksi dunia akan menghadapi krisis pangan global pada 2050 jika laju kenaikan suhu tidak terkendali. "Di masa Indonesia Emas atau di pertengahan abad, kalau perilaku kita tidak berubah, tetap memepertahankan energi fosil, tidak berubah ke energi yang lebih ramah lingkungan, maka akan terjadi krisis pangan dunia," paparnya. "Hampir seluruh dunia mengalami krisis pangan. Kita nggak bisa impor beras dan bahan lainnya karena negara lainnya juga kesulitan," ujarnya. Dwikorita menegaskan bahwa Asta Cita, yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, merupakan strategi penting untuk mencegah Indonesia dari ancaman krisis pangan tersebut. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.