Bitcoin Bertahan karena ‘Segelintir Raksasa’? Pasar Terbelah di Tengah Perang!

ED
Minggu, 12 April 2026 | 09:23 WIB
Bagikan
Bitcoin Bertahan karena ‘Segelintir Raksasa’? Pasar Terbelah di Tengah Perang!
VISI.NEWS | BANDUNG - Selama enam pekan terakhir, harga Bitcoin seperti menolak tunduk pada gejolak. Di tengah perang, likuidasi ratusan juta dolar, dan sentimen pasar yang muram, aset kripto terbesar itu bertahan di rentang sempit 65.000 hingga 73.000 dolar AS. Sepintas, ini tampak seperti ketahanan. Namun di balik layar, fondasinya kian mengerucut—dan mungkin rapuh. Pasar kini terbelah. Di satu sisi berdiri segelintir institusi yang terus membeli, bukan semata karena keyakinan, melainkan karena kewajiban model bisnis. Di sisi lain, mayoritas pelaku pasar—mulai dari investor besar hingga penambang—justru beringsut mundur. Nama paling menonjol dalam kelompok pembeli adalah Strategy. Perusahaan ini terus menambah cadangan Bitcoin bahkan saat harga bergerak di bawah rata-rata beli mereka. Awal April lalu, mereka kembali mengakumulasi ribuan BTC, mendorong total kepemilikan mendekati 767 ribu koin. Posisi yang secara akuntansi masih merugi tidak menghalangi langkah tersebut. Dengan setiap pembelian, mereka menurunkan harga impas—sebuah strategi yang agresif sekaligus berisiko. Selain Strategy, arus beli juga datang dari produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Dalam sebulan, instrumen ini menyerap puluhan ribu BTC. Namun data mingguan menunjukkan laju itu mulai melambat. Bahkan, sebagian besar aliran dana global terkonsentrasi di wilayah tertentu, bukan menyebar secara luas. Ini menandakan minat pasar yang tidak merata. Di sisi lain, kanal institusional tambahan seperti yang dibuka oleh Morgan Stanley mulai berperan, meski kontribusinya belum dominan. Secara keseluruhan, jumlah pemain yang benar-benar menopang harga dapat dihitung dengan jari. Sementara itu, kubu lain menunjukkan arah berlawanan. Investor besar—yang dikenal sebagai whale—berbalik dari pembeli menjadi penjual. Dalam setahun terakhir, kepemilikan mereka menyusut drastis. Ini bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan pola distribusi yang konsisten. Investor kelas menengah masih bertahan, tetapi dengan napas yang semakin pendek. Laju akumulasi mereka turun tajam, mengisyaratkan kelelahan. Jika tren ini berlanjut, bukan mustahil mereka ikut berbalik arah. Tekanan juga datang dari perusahaan tambang kripto. Di tengah biaya energi yang meningkat dan tingkat kesulitan penambangan yang terus naik, sejumlah perusahaan memilih menjual cadangan Bitcoin mereka. Nama-nama seperti Riot Platforms dan MARA Holdings tercatat melepas ribuan BTC dalam waktu singkat. Beberapa bahkan mulai mengalihkan bisnis ke sektor lain seperti komputasi kecerdasan buatan demi stabilitas pendapatan. Fenomena serupa terjadi di tingkat negara. Bhutan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan Bitcoin hasil penambangan mandiri, telah memangkas kepemilikannya secara signifikan. Dalam hitungan bulan, sebagian besar cadangan itu dilepas ke pasar. Di tengah gelombang jual tersebut, sentimen publik justru memburuk. Indeks ketakutan dan keserakahan bertahan lama di zona ekstrem pesimis—level yang terakhir terlihat saat pasar kripto terpuruk pada 2022. Percakapan di media sosial pun didominasi nada skeptis. Namun, harga tak runtuh. Setiap tekanan jual seperti diserap oleh pembeli institusional. Inilah yang menciptakan ilusi stabilitas—harga yang tampak tenang, tetapi ditopang oleh struktur yang semakin sempit. Gencatan senjata global sempat memberi napas segar. Harga Bitcoin melonjak, menembus kembali 72.000 dolar, disertai likuidasi besar pada posisi short. Indikator permintaan dari pasar Amerika juga mulai menunjukkan tanda pemulihan. Tetapi perubahan itu belum menyentuh akar persoalan. Ketergantungan pada segelintir pembeli tetap menjadi fakta utama. Selama aliran dana dari institusi terus mengalir, harga mungkin bertahan. Namun jika aliran itu tersendat, keseimbangan bisa berubah dengan cepat. Batas atas di kisaran 73.000 dolar masih menjadi tembok yang belum tertembus. Setiap reli berakhir di sana. Ini menunjukkan bahwa daya dorong dari sisi pembeli belum cukup kuat untuk membawa pasar ke fase berikutnya. Pasar Bitcoin hari ini bukan sekadar soal naik atau turun. Ia adalah cerminan ketidakseimbangan—antara keyakinan dan keraguan, antara akumulasi dan distribusi. Stabil di permukaan, tetapi menyimpan pertanyaan besar di bawahnya: sampai kapan segelintir “raksasa” mampu menahan beban pasar yang ditinggalkan banyak pihak? @uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.