Biota Kunci: Keajaiban Kepulauan Nusantara

ED
Sabtu, 7 Februari 2026 | 05:29 WIB
Bagikan
Biota Kunci: Keajaiban Kepulauan Nusantara

Data ekspedisi lainnya menunjukkan, ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Romang dan Damer dalam kondisi sedang-baik. Hal ini tercermin dari angka rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4%. Angka temuan ini di atas rata-rata regional (34%). Dalam analisis tingkat lanjut, peneliti menemukan bahwa sebagian koloni karang di perairan itu berusia sekitar 100-200 tahun.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perairan dangkal di kawasan itu telah bertahan sejak lama. Ekosistem tua ini mampu memberikan manfaat ekologis yang tinggi, seperti penjaga kawasan pantai, daerah pemijahan hewan-hewan laut penting dan bernilai ekonomis. Tentu saja, perairan dangkal nan sehat ini memiliki peran krusial bagi masa depan Indonesia. Peran Masyarakat Adat di Tengah Tantangan Besar

Ekspedisi ini juga menyoroti peran vital masyarakat adat Maluku Barat Daya yang masih memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal. Di Pulau Romang dan Damer, praktik Sasi serta larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama yang menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Program Kelautan dan Perikanan, Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf menambahkan, hasil ekspedisi mampu menunjukkan bahwa Maluku Barat Daya memiliki pulau-pulau kecil yang dikelilingi perairan yang masih terjaga sejak zaman leluhur. Pihaknya menyaksikan bagaimana terumbu karang di sana tetap sehat dan tangguh di saat banyak wilayah lain mengalami pemutihan.

"Kita menemukan habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar, serta tidak lepas dari isu sampah plastik dan ghost net. Kita harus berkolaborasi memperkuat pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas agar kekayaan ini tidak hilang," ungkapnya.

Keberlangsungan kekayaan alam di MBD kini menghadapi tantangan besar yang memerlukan tindakan kolektif segera. Ancaman nyata dari praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun, perburuan penyu, hingga polusi sampah plastik yang mulai merambah pesisir terpencil, berisiko merusak resiliensi ekosistem yang telah terjaga selama berabad-abad. Mengingat posisi Maluku Barat Daya sebagai pemasok nutrisi yang kaya dari samudera dan laut dalam, kerusakan di wilayah ini akan berdampak luas pada ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional. Itu sebabnya, penguatan pengawasan kolaboratif dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta mitra pembangunan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan kepulauan yang tersembunyi ini dari kerusakan permanen.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.