BI: Utang Indonesia Capai 444,4 Miliar Dolar AS
Mata uang AS Dolar./visi.news/ist.
Sementara itu, peningkatan utang luar negeri Bank Indonesia didorong oleh meningkatnya kepemilikan investor non-residen pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi tersebut sejalan dengan kebijakan operasi moneter yang ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, utang luar negeri swasta pada Mei 2026 tercatat sebesar 195,9 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 0,1 persen secara tahunan. Meski masih mengalami penurunan, kontraksi tersebut lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,5 persen.
Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan yang mencatatkan kontraksi sebesar 0,8 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan kontraksi 5 persen pada April 2026.
Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan pangsa mencapai 79,9 persen dari total utang luar negeri swasta. Utang jangka panjang masih mendominasi dengan porsi sebesar 74,9 persen.
Secara keseluruhan, struktur utang luar negeri Indonesia masih didominasi utang jangka panjang yang mencapai 83,9 persen dari total utang luar negeri.
Bank Indonesia bersama Pemerintah menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri guna menjaga struktur utang tetap sehat. Selain itu, utang luar negeri akan terus dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan dengan tetap meminimalkan berbagai risiko terhadap stabilitas perekonomian.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!