BI Dorong LCS untuk Cegah Konversi Ganda Penyelesaian Transaksi Ekspor Impor
"Secara makro, transaksi tersebut berdampak pada kebutuhan mata uang USD terus menerus meningkat dan jika nilai USD sedang naik nilai rupiah merosot. Jadi kita mendorong LCS agar secara makro nilai rupiah juga makin stabil," jelasnya.
Saat ini, negara yang sudah menjalin kesepakatan bilateral dalam penerapan LCS baru 4 negara, yakni Tiongkok, Malaysia, Thailand dan Jepang yang nilai impornya mencapai 40 persen dari total impor. Dalam pengembangannya, kini sedang dinegosiasikan MoU dengan Singapura dan akan terus dikembangkan ke negara lain, terutama 5 negara di kawasan Asean. Termasuk ke Arab Saudi untuk memfasilitasi para jemaah haji yang berbelanja saat melaksanakan ibadah haji.
"Nilai impor dari Tiongkok saat ini mencapai 21 persen, Jepang 12 persen dan Malaysia serta Thailand masing-masing sekitar 5 persen. Seandainya sebagian dari 40 persen itu dalam transaksi pembayaran melalui LCS tidak menggunakan dolar lagi, sudah dapat menekan permintaan dolar dalam jumlah besar," ungkapnya lagi.
Nugroho menegaskan, LCS juga menjamin nilai konversi dalam transaksi pembayaran tidak terpengaruh disaat nilai mata uang dolar melambung. Namun dia menyatakan, LCS hanya digunakan dalam transaksi pembayaran ekspor impor, namun tidak berlaku dalam pembayaran pinjaman yang menggunakan dolar.
Dalam bincang santai tersebut, para eksportir dan importir mempertanyakan kemungkinan penerapan LCS diperluas ke negara-negara Eropa, Kanada dan Australia. Para pengusaha juga bertanya, seberapa besar keuntungan mereka dalam penggunaan LCS, agar ekspor mereka ke negara-negara tersebut tetap dibayar dengan dolar.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!