Belum Pernah Saya Melihat Ibu Mega Semurka Itu
Dulu, Mega pernah menyindir wartawan seakan bukan orang Indonesia. Yang terbaru, belum sepekan berlalu, ia menyindir kerja wartawan seakan tak mematuhi kode etik jurnalistik. Saat seorang kawan mau menanggapi, saya larang. Alasannya, kita yang salah kalau berdebat dengan pihak yang tidak mengetahui persis prinsip kerja wartawan.
Puluhan tahun lalu, saya pernah ngobrol dengan Sukmawati di Taman Ismail Marzuki. Dari Sukma ada sedikit gambaran mengenai pembawaan asli Megawati yang sebenarnya pendiam.
“Mbak jarang bicara. Makanya kami adik-adiknya sempat rasanin Mbak, khawatir bagaimana nanti kalau memimpin partai,” kata Sukma.
Waktu itu Megawati memang belum menjadi Ketua Umum PDI-P. Belum lama terjun ke dunia politik.
Calon trah Soekarno
Video pendek yang memperlihatkan Megawati murka kemarin saya ulang-ulang putar. Versi panjangnya ditayangkan berkali-kali di semua stasiun televisi. Saya mencoba menyelami mengapa sosok pendiam itu sampai meledak.
Dalam diskusi kecil di WAG komunitas Pemimpin Redaksi Indonesia, saya mengutarakan beberapa hal. Pilpres 2024 memang merupakan kesempatan (mungkin terakhir) bagi PDI-P untuk menguji kembali calonnya dari Trah Soekarno.
Benar, PDI-P telah berhasil mengantarkan kader PDI-P yaitu Jokowi menjadi presiden, namun semua orang tahu, itu bukanlah yang sesungguhnya PDI-P maui. Jokowi bukan pendiri dan Trah Soekarno. Mbak Mega sudah merasakan kesulitan "mengendalikan" kader yang bukan Trah Soekarno yang menjadi Presiden RI.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!