Belajar dari Tiongkok, DPR Dorong Riset Pertanian untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 23 Mei 2025 | 18:55 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menyoroti tantangan serius yang dihadapi Indonesia dan Tiongkok dalam hal penyusutan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan.
Dalam periode 2013 hingga 2019, lahan sawah di Indonesia menyusut hingga 300.000 hektare (data BPS 2023), sementara di Tiongkok, keterbatasan topografi dan iklim membatasi area pertanian hanya sekitar 10 persen dari total luas daratan.
Berbeda dengan Indonesia yang masih berjuang mempertahankan lahan, Tiongkok merespons keterbatasannya dengan pengembangan pertanian vertikal berbasis teknologi canggih, seperti smart farming yang mengintegrasikan IoT (Internet of Things) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Alex, yang juga Ketua Panja Penyerapan Gabah dan Jagung, menyoroti potensi inovasi dalam negeri, seperti metode Sawah Pokok Murah (SPM) yang ditemukan oleh petani di Sumatera Barat. Inovasi ini bertujuan menekan biaya produksi tanpa menurunkan hasil panen. Namun, ia menyayangkan belum adanya dukungan riset memadai dari negara terhadap inovasi lokal tersebut.
Hal ini disampaikan Alex usai kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke China Academy of Agricultural Sciences (CAAS) di Beijing, Kamis (22/5/2025), di mana delegasi yang dipimpin Titiek Soeharto bersama 15 anggota mempelajari sistem Pertanian Vertikal Cerdas berbasis otomasi dan efisiensi tinggi.
Menurut Alex, pengalaman CAAS menunjukkan pentingnya peran riset dalam mewujudkan kemandirian pangan. Ia mengingatkan kembali pernyataan proklamator Indonesia, Soekarno: “pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa,” yang disampaikan pada peletakan batu pertama Fakultas Pertanian UI di Bogor, 1952.
“Ungkapan ini menekankan betapa pentingnya pangan bagi keberlangsungan dan kemajuan sebuah bangsa. Pangan yang cukup dan terjamin merupakan kunci untuk pembangunan bangsa yang sehat, kuat dan mandiri sebagaimana inti dari Asta Cita Presiden Prabowo,” ucap Alex.
Alex menegaskan, lembaga riset dan perguruan tinggi harus mengambil peran strategis dalam meningkatkan kualitas hidup petani, yang jumlahnya signifikan dalam struktur penduduk Indonesia. Inovasi seperti SPM perlu disokong oleh kebijakan berbasis riset, agar tak tertinggal dari negara lain dalam membangun pertanian modern.
Ia juga menambahkan bahwa saat ini Komisi IV tengah membahas revisi UU Pangan, dan mendorong adanya pasal khusus tentang keberlanjutan riset untuk ketahanan pangan nasional.
“Petani Sumatera Barat dengan metode SPM-nya, adalah salah satu inovasi yang perlu didukung riset mendalam. Jika negara tidak kunjung hadir di tengah petani, maka kalimat profetik Bung Karno, pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa, penting kita renungkan kembali,” ujarnya.
Ia menerangkan, Bung Karno di masa pemerintahannya, membuat program pembangunan nasional semesta berencana yang berbasiskan penelitian.
“Komisi IV DPR RI saat ini tengah membahas revisi UU Pangan, dimana Panjanya diketuai langsung oleh Ketua Komisi IV, Ibu Titiek Suharto. Kita mendorong agar salah satu pasalnya nanti, adanya keberlanjutan riset dalam mendukung ketahanan pangan,” tutup Alex, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Barat. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!