Bayang-Bayang Perang Besar di Timur Tengah
Di Irak, payung milisi yang menamakan diri Perlawanan Islam Irak mengklaim meluncurkan puluhan serangan drone dan roket ke pangkalan AS di Irak dan kawasan sekitarnya. Salah satu faksi, Saraya Awliya Al-Dam, mengaku menyerang Bandara Irbil dan Camp Victory dekat Bandara Baghdad. Namun, sejumlah klaim belum terverifikasi dan laporan kerusakan disebut terbatas tanpa korban jiwa terkonfirmasi.
Di Yaman, sikap gerakan Houthi justru relatif lebih terkendali. Pemimpinnya, Abdul-Malik al-Houthi, tetap melontarkan retorika keras dan menyatakan kesiapan melanjutkan “larangan pelayaran Israel.” Meski demikian, serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah belum kembali pada intensitas 2024–2025. Para analis menyebut ini sebagai “eskalasi terkendali” — menjaga ancaman tetap hidup tanpa memancing serangan balasan besar.
Pengamat keamanan internasional dari King's College London, Robert Geist Pinfold, menilai langkah Hezbollah justru memberi Israel alasan untuk memperluas operasi militernya, khususnya di wilayah selatan Sungai Litani. Sementara itu, jurnalis Inggris-Lebanon Mohamed Chebaro berpendapat bahwa Iran belum menunjukkan seluruh kartunya dan bisa saja meningkatkan tekanan bila konfrontasi berkembang.
Di tengah ketidakpastian suksesi kepemimpinan di Teheran — dengan nama Mojtaba Khamenei disebut-sebut sebagai kandidat kuat — pendekatan Iran digambarkan sebagai “kesabaran strategis.” Teheran tampak mengandalkan proksi untuk memberikan tekanan terukur tanpa memicu perang total melawan kekuatan gabungan AS, Israel, dan sekutu Arabnya. Namun, selama rudal dan drone terus melintas di langit Timur Tengah, risiko salah kalkulasi tetap mengintai, dan dunia bersiap menghadapi kemungkinan krisis yang lebih luas.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!