Bayang-Bayang Perang Besar di Timur Tengah
VISI.NEWS | LONDON - Ketegangan kembali menyelimuti Timur Tengah setelah laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam rangkaian serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Rudal dan drone kembali melintasi langit kawasan, sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz tersendat, memicu kekhawatiran bahwa situasi ini dapat berkembang menjadi perang regional dengan dampak global.
Harga minyak dunia melonjak menembus 80 dolar AS per barel dan berpotensi naik lebih tinggi jika jalur pelayaran utama terus terganggu. Para analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu gelombang kejut ekonomi yang terasa hingga Eropa dan Asia, mengingat kawasan tersebut merupakan jalur vital distribusi energi dunia.
Sejauh ini, dikutip dari Arabnews, Kamis (5/3/2026), respons Teheran atas serangan AS-Israel lebih banyak menimbulkan kekhawatiran dibanding keuntungan strategis. Sejumlah ibu kota Arab mengecam pelanggaran kedaulatan, namun tidak serta-merta memihak Iran. Para pemimpin kawasan berupaya menjaga keseimbangan: mengutuk eskalasi, tetapi tetap membuka jalur diplomasi demi mencegah salah perhitungan yang bisa berujung perang terbuka.
Sorotan tertuju pada poros yang disebut “axis of resistance” — termasuk Hezbollah di Lebanon, berbagai milisi Syiah di Irak, serta gerakan Houthi di Yaman. Respons mereka terhadap krisis ini terlihat tidak seragam. Sebagian pengamat menilai ketidaksinkronan tersebut justru merupakan bagian dari strategi terukur yang telah dipersiapkan Teheran sejak lama.
Pada dini hari 2 Maret, Hezbollah meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah lokasi militer di Israel utara — serangan lintas batas terbesar sejak gencatan senjata 2024. Israel membalas dalam hitungan jam dengan menggempur target di Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut, termasuk pusat komando dan gudang senjata, serta memerintahkan pasukan menguasai area strategis di sepanjang perbatasan.
Pemerintah Lebanon mengambil langkah luar biasa dengan melarang aktivitas militer Hezbollah. Bahkan dilaporkan, militer Lebanon menahan 12 anggota kelompok tersebut setelah serangan roket ke Israel. Langkah ini mencerminkan kemarahan publik yang tidak ingin kembali terseret ke perang besar di tengah krisis ekonomi parah dan gelombang pengungsian di selatan negeri itu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!