Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Bayang-Bayang Perang Besar di Timur Tengah

ED
Kamis, 5 Maret 2026 | 06:07 WIB
Bagikan
Bayang-Bayang Perang Besar di Timur Tengah

VISI.NEWS | LONDON - Ketegangan kembali menyelimuti Timur Tengah setelah laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam rangkaian serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Rudal dan drone kembali melintasi langit kawasan, sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz tersendat, memicu kekhawatiran bahwa situasi ini dapat berkembang menjadi perang regional dengan dampak global.

Harga minyak dunia melonjak menembus 80 dolar AS per barel dan berpotensi naik lebih tinggi jika jalur pelayaran utama terus terganggu. Para analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu gelombang kejut ekonomi yang terasa hingga Eropa dan Asia, mengingat kawasan tersebut merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Sejauh ini, dikutip dari Arabnews, Kamis (5/3/2026), respons Teheran atas serangan AS-Israel lebih banyak menimbulkan kekhawatiran dibanding keuntungan strategis. Sejumlah ibu kota Arab mengecam pelanggaran kedaulatan, namun tidak serta-merta memihak Iran. Para pemimpin kawasan berupaya menjaga keseimbangan: mengutuk eskalasi, tetapi tetap membuka jalur diplomasi demi mencegah salah perhitungan yang bisa berujung perang terbuka.

Sorotan tertuju pada poros yang disebut “axis of resistance” — termasuk Hezbollah di Lebanon, berbagai milisi Syiah di Irak, serta gerakan Houthi di Yaman. Respons mereka terhadap krisis ini terlihat tidak seragam. Sebagian pengamat menilai ketidaksinkronan tersebut justru merupakan bagian dari strategi terukur yang telah dipersiapkan Teheran sejak lama.

Pada dini hari 2 Maret, Hezbollah meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah lokasi militer di Israel utara — serangan lintas batas terbesar sejak gencatan senjata 2024. Israel membalas dalam hitungan jam dengan menggempur target di Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut, termasuk pusat komando dan gudang senjata, serta memerintahkan pasukan menguasai area strategis di sepanjang perbatasan.

Pemerintah Lebanon mengambil langkah luar biasa dengan melarang aktivitas militer Hezbollah. Bahkan dilaporkan, militer Lebanon menahan 12 anggota kelompok tersebut setelah serangan roket ke Israel. Langkah ini mencerminkan kemarahan publik yang tidak ingin kembali terseret ke perang besar di tengah krisis ekonomi parah dan gelombang pengungsian di selatan negeri itu.

Di Irak, payung milisi yang menamakan diri Perlawanan Islam Irak mengklaim meluncurkan puluhan serangan drone dan roket ke pangkalan AS di Irak dan kawasan sekitarnya. Salah satu faksi, Saraya Awliya Al-Dam, mengaku menyerang Bandara Irbil dan Camp Victory dekat Bandara Baghdad. Namun, sejumlah klaim belum terverifikasi dan laporan kerusakan disebut terbatas tanpa korban jiwa terkonfirmasi.

Di Yaman, sikap gerakan Houthi justru relatif lebih terkendali. Pemimpinnya, Abdul-Malik al-Houthi, tetap melontarkan retorika keras dan menyatakan kesiapan melanjutkan “larangan pelayaran Israel.” Meski demikian, serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah belum kembali pada intensitas 2024–2025. Para analis menyebut ini sebagai “eskalasi terkendali” — menjaga ancaman tetap hidup tanpa memancing serangan balasan besar.

Pengamat keamanan internasional dari King's College London, Robert Geist Pinfold, menilai langkah Hezbollah justru memberi Israel alasan untuk memperluas operasi militernya, khususnya di wilayah selatan Sungai Litani. Sementara itu, jurnalis Inggris-Lebanon Mohamed Chebaro berpendapat bahwa Iran belum menunjukkan seluruh kartunya dan bisa saja meningkatkan tekanan bila konfrontasi berkembang.

Di tengah ketidakpastian suksesi kepemimpinan di Teheran — dengan nama Mojtaba Khamenei disebut-sebut sebagai kandidat kuat — pendekatan Iran digambarkan sebagai “kesabaran strategis.” Teheran tampak mengandalkan proksi untuk memberikan tekanan terukur tanpa memicu perang total melawan kekuatan gabungan AS, Israel, dan sekutu Arabnya. Namun, selama rudal dan drone terus melintas di langit Timur Tengah, risiko salah kalkulasi tetap mengintai, dan dunia bersiap menghadapi kemungkinan krisis yang lebih luas.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.