Bangkit Lewat Digital, Warteg Warmo Selamat dari Tutup Permanen

ED
Senin, 26 Januari 2026 | 17:56 WIB
Bagikan
Bangkit Lewat Digital, Warteg Warmo Selamat dari Tutup Permanen

Keinginan menghadapi tantangan yang lebih besar pun membawanya pada langkah berani: mengambil alih pengelolaan Warteg Warmo. Mengelola usaha yang sudah berjalan lama memberi tantangan yang berbeda yaitu menjaga kepercayaan yang sudah ada sambil membuat Warmo tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Inovasi Tanpa Menghilangkan Jati Diri

Iman memilih untuk tidak mengubah Warteg Warmo secara drastis. Ia justru merawat bangungan Warmo dengan melakukan perbaikan bertahap agar Warteg Warmo terasa lebih nyaman. “Saya tidak banyak ubah karena saya ingin mempertahankan Warmo sebagaimana mula nya. Akan tetapi ada pembaruan di beberapa titik seperti cat ulang, mengganti furnitur yang sudah cukup tua sehingga pelanggan nyaman untuk makan di sini,” jelas Iman.

Dari sisi menu, hidangan andalan yang telah lama dikenal pelanggan setia tetap dipertahankan. Di saat yang sama, Iman menambahkan beberapa pilihan menu yang lebih selaras dengan selera pelanggan muda di sekitar Tebet. “Saya memutuskan untuk mempertahankan menu-menu khas Warmo yang sudah jadi andalan, seperti sop iga. Tapi saya juga menambahkan beberapa menu baru supaya tetap relevan buat pelanggan anak muda misalnya chicken teriyaki atau katsu. Selain itu juga terdapat paket-paket menu yang sudah termasuk es teh. Harapannya, strategi ini bisa menarik pelanggan baru tanpa menghilangkan ciri khas Warmo.”

Tantangan Operasional yang Tak Terlihat Pelanggan

Di balik ramainya pelanggan, tantangan datang dari operasional harian. Awal perjalanan Iman dalam mengelola Warmo, transaksi masih mengandalkan tunai dan pencatatan manual. “Kami menggunakan metode pembayaran tunai dan pencatatan manual selama 6 bulan pertama. Sebelumnya pun pemilik lama juga menggunakan sistem yang sama,” kata Iman.

Alhasil, pembukuan sering tidak rapi dan rawan selisih mulai dari saldo yang tidak sesuai dengan uang yang diterima, hingga sulitnya melacak pemasukan harian secara detail, terutama saat volume transaksi meningkat. “Wah, awal-awal cukup rumit. Sering kali ada aja kekurangannya setiap rekap penjualan. Waktu itu pembukuannya belum rapi, masih pakai catatan sendiri, jadi sering nggak balance pas dicek di akhir bulan atau akhir tahun. Saldo sama pencatatan debit–kredit juga kadang belum ketemu,” lanjut Iman.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.