Bandung Berpacu dengan Krisis, Sampah Jadi Ancaman Nyata
Kota Bandung menghadapi krisis sampah menjelang rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pada 1 Agustus mendatang. /visi.news/ist
VISI.NEWS | BANDUNG - Ancaman krisis sampah di Kota Bandung kian nyata menjelang rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pada 1 Agustus mendatang. Di tengah keluhan warga yang terus meningkat dan volume sampah harian yang masih menembus 1.100 ton, Pemerintah Kota Bandung mulai menggeber serangkaian langkah agresif untuk menekan ancaman darurat sampah.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Pemkot Bandung kini mempercepat strategi penanganan dari hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan sampah organik berbasis wilayah, pembangunan lubang kompos, hingga pembentukan budaya kebersihan berbasis warga. Upaya ini dipandang krusial agar Bandung tidak menghadapi ledakan persoalan sampah saat akses ke Sarimukti terganggu.
Salah satu program andalan yang kini dikedepankan adalah Gaslah atau Gerakan Sampah Kelar di Wilayah. Program yang diluncurkan sejak akhir Januari 2026 itu disebut mulai menunjukkan hasil di luar target.
Kepala DLH Kota Bandung Darto mengatakan, target awal pengolahan sampah melalui Gaslah hanya dipatok 40 ton per hari. Namun dalam perkembangan terbaru, volume pengolahan justru menembus 62 ton per hari.
“Rata-rata capaian harian sekarang berkisar 45 sampai 62 ton. Ini menunjukkan pola pengolahan sampah organik mulai efektif mengurangi beban kota,” ujar Darto, Selasa (28/4/2026).
Capaian itu dipandang menjadi sinyal bahwa pendekatan berbasis wilayah mulai bekerja. Di tengah tekanan kapasitas TPA yang terus menyempit, pengolahan di tingkat lokal dinilai menjadi benteng pertama menghadapi ancaman krisis.
Namun Gaslah bukan satu-satunya jurus. Pemkot Bandung juga mengandalkan program Sasapu yang rutin digelar setiap Minggu subuh. Program ini menyasar berbagai titik strategis di kota sebagai upaya preventif menjaga kebersihan kawasan padat aktivitas.
Tak berhenti di situ, pembangunan kompos pit atau lubang kompos kini dikebut di banyak wilayah. Hingga akhir April, tercatat sudah ada 1.473 unit kompos pit yang tersebar di berbagai titik, dengan kapasitas penyerapan diperkirakan mencapai 60 ton sampah organik per hari.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!