“Aura Mahakam”: Generasi Muda Garda Lanskap Mahakam

ED
Jumat, 9 Januari 2026 | 04:09 WIB
Bagikan
“Aura Mahakam”: Generasi Muda Garda Lanskap Mahakam

VISI.NEWS | SAMARINDA — Festival Aura Mahakam diselenggarakan pada Hari Lingkungan Hidup Nasional, Sabtu (10/1/2026) di Teras Samarinda, sebagai upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian Lanskap Mahakam, salah satu kawasan ekologis strategis di Indonesia.

Lanskap Mahakam memiliki luas lebih dari 77.000 kilometer persegi, mencakup ekosistem hutan tropis, sungai, rawa, dan danau yang menjadi habitat berbagai spesies dilindungi, seperti pesut Mahakam, orangutan, dan burung enggang, serta beragam flora dan fauna endemik. Kawasan ini juga merupakan ruang hidup 27.923 jiwa Masyarakat Adat dari berbagai sub-suku Dayak, antara lain Busang, Kenyah, Kayan, Bahau, Penihing, dan Modang, yang tersebar di 49 kampung. Bagi Masyarakat Adat, Mahakam memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan spiritual yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Lanskap Mahakam menghadapi tekanan serius akibat deforestasi, aktivitas pertambangan, ekspansi perkebunan kelapa sawit, serta hutan tanaman industri. Kerusakan hutan di wilayah hulu berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir, penurunan kualitas air, serta menyusutnya ruang hidup satwa liar dan masyarakat. Kondisi tersebut menegaskan urgensi perlindungan lanskap Mahakam melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor dan lintas generasi.

Festival Aura Mahakam merupakan bagian dari kampanye Aura Mahakam yang diluncurkan secara digital pada September 2025, dengan fokus melibatkan generasi muda, khususnya di kawasan perkotaan sekitar Mahakam seperti Samarinda dan Balikpapan. Dalam festival ini, seni menjadi salah satu medium utama penyampaian pesan ekologis.

Hari Merdeka, visual artist yang terlibat dalam kampanye Aura Mahakam 2026, menyatakan bahwa seni memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik terhadap krisis lingkungan di Mahakam. Menurutnya, melalui karya visual, Mahakam dihadirkan bukan sekadar sebagai bentang alam, melainkan sebagai ruang hidup yang rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama. Ia juga menilai seni seperti mural bisa menjadi medium untuk mengekspresikan kepedulian, membangun solidaritas, serta menyuarakan kritik terhadap model pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.